Batagor


by Selfy Parkit

Batagor-Bandung

Apakah anda tahu nama makanan yang satu ini? Namanya Batagor alias Bakso Tahu Goreng. Makannya dengan disiram bumbu saus kacang di atasnya, rasanya hmmm… Kriuk-kriuk renyah. Bagi masyarakat Sunda makanan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi. Ya Batagor aslinya berasal dari masyarakat Sunda, tepatnya ditemukan pada tahun 1980an di kota Bandung. Banyak sekali jenis Batagor yang terkenal di kota Bandung, namun saat ini sudah banyak disesuaikan ke dalam resep cita rasa masyarakat sunda. Tetapi kita tidak akan berbicara lebih jauh lagi mengenai Batagor, apalagi mengupasnya secara detail dan mendalam. Melainkan ada satu kisah kehidupan yang berhubungan dengan Batagor yang mungkin saja dapat membuat anda menyadari bahwa betapa anda terkadang terlalu sibuk terhadap diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain? Seberapa besarkah anda memperdulikan diri anda dibanding anda memperdulikan orang lain? Terlebih lagi orang tua anda? Semoga cerita di bawah ini mampu membuka pintu hati anda saat ini.

akuangDi suatu malam seorang pemuda bernama Akuang pulang dari tempat kerja menuju rumahnya yang sederhana. Didapati olehnya beberapa orang yang sedang santai duduk-duduk di pelataran rumahnya, dan dua diantaranya adalah ayah dan ibunya yang sudah berumur. Mereka asik mengobrol satu sama lain, sementara Akuang dengan perut lapar dan capai karena lembur bekerja sampai larut malam sibuk mencopoti sepatunya. Si ibu yang sejenak menatap wajah anak laki-lakinya yang kelihatan letih segera berseru, “Akuang, makan sana! Hari ini ibu tidak sempat masak karena ada rapat di kelurahan, tapi ibu sudah membelikan Batagor untukmu.” Akuang yang sudah selesai melepaskan sepatunya, dengan segera menyambut kata-kata ibunya dengan tegas, “Bu, sudah berapa kali sih Akuang bilang, kalau ibu tidak masak lebih baik tidak usah membelikanku apa pun. Akuang kan pernah bilang kalau Akuang tidak suka Batagor. Lain kali tidak usah repot beli makan buat Akuang, Akuang bisa beli makan sendiri di luar.” Kata-kata tersebut sudah terlanjur dilontarkan dari mulutnya, walaupun sesungguhnya di dalam hati Akuang tidak bermaksud mengatakan hal itu kepada ibunya. Namun, karena keadaan ekonomi keluarganya yang memburuk, membuat Akuang terkadang tidak bisa berpikir jernih. Akuang benar-benar menghemat semua pengeluarannya, dan ia merasa ibunya terlalu boros karena menghamburkan uang hanyak untuk beli makan di luar, dan tidak memasak saja di rumah, pikirnya.

Dengan rasa kesal Akuang masuk ke dalam rumah. Ia kembali berpikir ibunya kadang tidak mengerti dirinya, tidak juga pernah mau mendengarnya, dan pikirannya itu hanya membuat perut Akuang semakin lapar saja. Dalam keadaannya yang kelaparan itu, Akuang membuka tudung makanan di meja makan, di dalamnya terdapat sebungkus Batagor dengan bumbu kacang dan satu piring nasi. Sedikit pun Akuang tidak bernafsu untuk menyentuhnya. Lalu ditutupnya kembali tudung makanan tersebut dan duduklah ia di kursi goyangnya. Seketika adik perempuannya yang masih belasan datang menghampirinya. “De kamu sudah makan belum?” tanya Akung. “Belum” jawab adiknya. “Kok belum makan malam-malam begini? Tuh makan deh Batagornya!” seru Akuang sambil menunjuk tudung makanan. “Iya nantilah kak!” kata adiknya.

Jarum jam terus berputar agak lama, namun adiknya belum sedikit pun menyentuh Batagor yang ditawari Akuang. “Eh cepat itu Batagornya di makan!, nanti malam malah akan disemuti. Kakak mau makan di luar saja!” seru Akuang mendesak. Si adik menatapnya tajam sambil berkata, “Iya kak nanti saja, Ibu dan Ayah juga belum makan!” seru si adik kepadanya. Terhentak Akuang seketika, bulir air mata pun bergemang di pelupuk matanya. Ternyata ibunya hari itu kehabisan uang belanja dan tidak memasak seharian, dan yang tersisa hanyalah uang 2000 rupiah saja, yang hanya bisa ia belikan Batagor untuk makan malam anaknya.

Dari cerita tersebut kita bisa merasakan bahwa kepedulian orangtua dan adik perempuan Akuang begitu teramat besar, sampai-sampai mereka lupa kalau mereka sendiri belum makan. Rasa lapar di dalam perut mereka seakan-akan tidak dirasakan. Namun memang begitulah adanya, jikalau kita peduli terhadap kebahagiaan orang lain, maka secara otomatis kita tidak lagi memikirkan diri kita sendiri. Beban di pundak tidak lagi terasa berat, masalah yang dihadapi seakan hilang terbawa angin. Perut yang lapar seakan menjadi kenyang. Tetapi lihatlah kenyataan yang terjadi! Apakah kita cenderung seperti Akuang? Yang selalu berkutat memikirkan dirinya sendiri? Semoga saja dengan cerita ini, kita menjadi lebih menyadari dan lebih peduli dengan orang lain, terlebih lagi dengan orang-orang yang ada di dekat kita, khususnya orang tua kita.

 

Dedicated to my Mom and my alm. Dad

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s