Cinta Nenek


By. Selfy Parkit

‘Nenek cucumu merasa sepi dan hampa, bawalah aku ke tempatmu sebentar saja’, pinta Vita lirih dalam hati. Gadis kecil itu tampak tak terurus, seharian sudah ia tidak makan. Wajahnya pucat dan Matanya bengkak karena menangis, yang ia lakukan hanyalah merebahkan tubuhnya di atas kasur tua di bawah atap bocor bertambalkan kaca-kaca bening tempat para bintang mengitipnya dari langit.

“Meong… meoong….” puluhan kucing mengeong kelaparan, sebagian dari mereka sudah pergi untuk mencari makan, sebagian lagi tetap setia menunggui Vita untuk memasak makanan kesukaan yang selama ini mereka makan. Ikan asin dengan sayur mayur hasil kebun sendiri nampaknya sudah seharian tidak dihidangkan kepada mereka. Pangilan mereka bersautan ‘Meong… meoong… meoong….” Seakan-akan mereka mengerti dan merasakan kesedihan Vita. Namun Vita seakan tuli, tenggelam dalam kekalutannya. Baginya tak ada lagi kehidupan, dunia terasa sepi dan tak ada lagi mimpi-mimpi yang bisa ia bagi dengan neneknya, orang yang selama ini ada di sisinya.

Sejenak matanya yang hitam menerawang jauh ke angkasa lalu kembali lagi menari di dalam kegelapan. Dilihatnya gerobak sayur mayur tempat sang nenek membawa barang dagangannya. Rasanya begitu cepat pikirnya. Masih jelas dalam ingatannya kemarin subuh ia membantu sang nenek memetik sayur mayur di kebun belakang gubuk tuanya, menyiapkan barang dagangannya dan sarapan pagi untuk sang nenek beserta kucing-kucingnya. Vita pun sempat mengantar kepergian sang nenek ke pasar, namun apa mau dikata kebahagiaannya selama 9 tahun bersama sang nenek harus berakhir pada subuh itu.

“Nenek…” tangisannya memecah keheningan malam, namun gubuknya terlalu sunyi dan terpencil hingga tak ada satu pun manusia yang akan mendengarkannya. Kucing-kucing liarnya mulai berhamburan, ada sebagian yang datang menghampiri, menjilati wajah dan kaki Vita. Namun Vita masih saja hanyut dalam kesedihannya, yang teringat hanyalah neneknya. Seorang tua yang penuh cinta, lemah lembut dan berhati tulus hingga bersedia membagi tempat tinggalnya bersama kucing-kucing liar kelaparan yang ia temukan di jalan. Satu demi satu lama-lama menjadi puluhan, kucing-kucing liar itu dirawat serta diberi makan oleh sang nenek bagaikan anak-anaknya sendiri. Namun kini sang nenek tiada lagi, manusia baik itu telah dikebumikan tadi pagi, telah pergi ke alam lain karena usia tuanya, dan para kucing hanya bisa berdatangan dari segala penjuru menyaksikan kepergiannya.
persia cat“Pus…” bibir Vita mulai bergetar berusaha membuka suara. Pussy si kucing berwarna putih bersih, dengan ekor panjang berbulu lebat mirip dengan jenis keturunan kucing Persia berjalan menghampiri Vita dan mengelus-eluskan kepalanya ke tangan Vita. “Kini aku tahu mengapa kau menarik-narik kain nenek tadi subuh, kau tak ingin nenek pergikan!?” seru Vita kepada kucing kesayangan nenek. “Iya aku rasa begitu…” Kembali ia bergumam sendiri, rasanya tidak ada lagi makhluk yang bisa diajaknya bicara, “…Kemarin malam nenek bercerita kepadaku kalau ia bermimpi, dalam mimpinya Ayah dan ibuku akan datang menjemputnya dengan kereta besar yang terbuat dari emas. Lalu aku tanya kepada nenek, apakah nenek mau pergi dan tinggal bersamanya? Tapi nenek hanya terdiam”, bulir basah mulai menetes kembali dari mata Vita, namun Pussy hanya bisa mengibas-ngibaskan ekornya. “Kau tau Pussy…” sahutnya sambil melanjutkan, “Nenek hanya mencium keningku dan mendekapku erat, lalu ia berkata, cinta nenek akan selalu ada di hati Vita, di mana pun nenek berada, cinta nenek akan selalu ada di sana. Tapi Pussy aku masih belum mengerti, mengapa ketika nenek benar-benar pergi aku seakan kehilangan cinta itu, aku tak dapat merasakan cinta nenek!” seru Vita lirih dan kembali menangis. Suasana hening seketika, para kucing berhenti mengeong dan berkumpul bergerombol berjalan menghampiri Vita yang masih terbaring di kasurnya. Masing-masing makhluk berbulu itu meletakan tubuh kecilnya di sisi Vita, dan menghangatkan tubuhnya. Sebagian mengelus-eluskan tangan dan kaki Vita dengan kepalanya, sebagian lagi menjilati tangan dan kaki Vita. Seakan-akan para kucing ingin Vita mengerti kalau mereka menyayangi Vita.

Isak Vita semakin mereda, hatinya mendadak tentram, tubuh mungilnya terasa hangat dan nyaman. Sejenak ia memejamkan matanya, kedamaian meliputi dirinya. Di dalam keheningan yang teramat ia menemukan cinta dalam hatinya, cinta sang nenek yang iaanime kartun jepang kira sudah hilang. Kucing-kucing itu membantunya menemukan cinta yang ia cari, mengajarinya untuk merasakan cinta sang nenek. Kemudian bangkitlah ia dari keterpurukannya, melangkahkan kakinya menuju dapur, memasak ikan asin dan sayur mayur tadi pagi, lalu menempatkannya ke dalam mangkuk-mangkuk dan diberikannya kepada Pussy berserta kawan-kawannya. “Meong… meong….” Para kucing merasa bahagia melihat sinar mata Vita kembali cerah, menggambarkan senyuman manis di bibirnya.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s