Siapkah Jika Dia Datang?


 Oleh Selfy Parkit

Ketika saya berusia 9 tahun nenek saya meninggal dunia. Inilah saat pertama kalinya saya mengetahui bahwa manusia akan meninggal dan pergi untuk selamanya dari kehidupan saya, entah pergi ke mana saat itu saya belum mengerti. Karena belum mengerti saya tetap diam, menangis pun tidak, walaupun saat itu seluruh keluarga saya sudah bercucuran air mata. Barulah ketika saya merasa kehilangan nenek yang memang sudah turut andil dalam membesarkan saya, saya merasa sedih dan menangis. Hidup saya saat itu terasa sepi, tak ada lagi tempat mengadu, bermanja dan seolah-olah takkan ada orang yang dapat mengerti saya. Sungguh kematian menjadi sebuah misteri dan pertanyaan bagi saya.

Pengertian Kematian

Kematian, mati atau meninggal, ketika mendengar kata-kata ini banyak sekali dari kita yang mengartikannya sebagai sesuatu yang menakutkan, menyedihkan dan lain sebagainya. Sebenarnya apakah arti kata dari kematian, mati atau meninggal bagi setiap orang? Umumnya orang akan mengartikan kematian sebagai akhir dari hidup, berhenti bernafas dan tidak bernyawa. Definisi kematian secara umum ini memang sudah dikenal pada zaman dahulu kala – mati diartikan sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. Namun definisi ini sangatlah abstrak, banyak orang yang masih mempertanyakan di manakah letak nyawa sesungguhnya di dalam tubuh. Sehingga perlu definisi yang lebih jelas mengenai kematian. Secara kronologis, definisi mati yang diusulkan oleh para ahli kedokteran yakni: berhentinya denyut jantung dan pernapasan, berhentinya fungsi otak (brain death). Kemudian seiring perkembangan ilmu kedokteran definisi ini berkembang lagi menjadi berhentinya fungsi batang otak (brain stem death). Sedangkan menurut PP No.18 tahun 1981, bab I pasal 1G menyebutkan bahwa, “Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti.” Definisi ini merupakan definisi yang sah di Indonesia. Namun di kalangan dokter Indonesia menggunakan acuan “Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia tentang Mati” (Lampiran SK.PB IDI No.231/PB/A.4/07/90) yang isinya:

1.    Mati adalah proses yang berlangsung secara berangsur. Tiap sel dalam tubuh manusia mempunyai daya tahan tubuh yang berbeda-beda terhadap adanya oksigen dan oleh karenanya, mempunyai saat kematian yang berbeda pula.

2.    Bagi dokter, kepentingan bukan terletak pada tiap butir sel tersebut, tetapi pada kepentingan manusia itu sebagai kesatuan yang utuh.

3.    a.) Dalam tubuh manusia, ada tiga organ penting yang selalu dilihat dalam penentuan kematian seseorang, yaitu jantung, paru-paru, dan otak (khususnya batang otak); b.)     Di antara ketiga organ tersebut, apabila terjadi kerusakan permanen pada batang otak, maka orang tersebut tidak dapat dinyatakan hidup lagi.

4.    Seseorang dinyatakan mati apabila:

a.) Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau irreversible (tidak dapat diubah),

b.) Apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak.

c.) Untuk tujuan transplantasi organ, penentuan mati didasarkan pada mati batang otak. Sebelum dilakukan pengambilan organ, semua tindakan medis diteruskan agar organ tetap baik.

Dilihat dari pengertian kematian di atas, dapat kita perhatikan bahwa masing-masing sisi-sisi mempunyai definisi sendiri mengenai kematian. Namun dapat disimpulkan bahwa kematian adalah berhentinya hidup seseorang di dunia sekarang ini, dengan ditandai berhentinya nafas dan fungsi tubuh seseorang yang secara medis meyakini bahwa seseorang dianggap mati bila batang otaknya berhenti berfungsi.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Arti Kematian

Memahami arti kematian yang berbeda-beda dari setiap sisi baik secara medis dan secara umum, tentunya setiap arti kematian bagi setiap orang itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai hal hingga berdampak pada pola hidup yang mereka terapkan di dalam kehidupan mereka sehari-hari, sebenarnya faktor apa saja yang memengaruhi pandangan seseorang terhadap kematian?

Belum ada satu pun penelitian mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat memengaruhi pandangan kematian terhadap seseorang, tetapi kita dapat menarik suatu kemungkinan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi arti kematian di setiap orang adalah faktor keluarga, tradisi, lingkungan, pendidikan dan agamanya. Karena faktor-faktor inilah yang memungkinkan dapat memberikan dampak secara langsung pada pandangan seseorang mengenai kematian.

Faktor keluarga, tradisi dan lingkungan sangat berkaiatan erat hubungannya dalam menanamkan suatu paham tentang kematian terhadap seseorang. Setiap orang di dalam satu keluarga pastinya pernah mengalami kematian, entah itu kematian dari orangtua kita, kakek, nenek, saudara, adik, kakak dan lain-lain. Pada saat salah satu anggota di keluarga kita mengalami kematian, biasanya anak-anak kecil yang belum mengerti cenderung mempertanyakan apa yang sedang terjadi dengan anggota keluarganya. Ketika itulah biasanya para orang dewasa bertugas menjelaskan konsep mengenai kematian terhadap si anak. Entah mengerti maksudnya atau tidak, si anak akan mencerap pengertian tentang kematian itu di dalam ingatannya. Dia mungkin akan mengingat kalau kematian harus ditangisi, kematian akan kehilangan, atau termakan doktrin – mati menuju alam neraka atau surga yang keberadaannya antah berantah dan sulit dicerna oleh pikiran sehat si anak.

Begitu juga di dalam lingkungan tempat kita tinggal – memengaruhi pandangan seseorang mengenai kematian. Lingkungan yang menggangap kematian sebagai hal yang menakutkan dapat membuat suasana kematian sebagai hal yang mencekam dan perlu ditakuti. Namun jikalau lingkungan tempat kita tinggal berpandangan bahwa kematian adalah salah satu hal yang wajar, mungkin saja kebanyakan anggota masyarakat di dalamnya tidak akan mudah menangis dan meratapi kematian. Contoh, lingkungan tempat di mana para bhikkhu tinggal. Jika ada salah satu anggotanya meninggal, mereka mungkin saja cenderung bersikap tenang. Malah mungkin tidak ada yang menangis. Seorang anak yang sejak kecil tinggal di lingkungan ini cenderung akan mengikuti apa yang dilakukan oleh bhikkhu-bhikkhu tersebut, si anak akan berpandangan bahwa kematian adalah bersikap tenang dan wajar, tak ada tangisan tak ada putus asa, tenang dan damai, kemudian mungkin si anak akan berpendapat bahwa kematian itu adalah hal yang biasa, ibarat tidur yang lelap.

Lalu bagaimana tradisi dapat memengaruhi pandangan kematian terhadap seseorang? Tradisi sebenarnya berpengaruh kuat terhadap kepercayaan keluarga dan lingkungan tempat seseorang tinggal. Di dalam tradisi Tionghoa contohnya, mereka merasa masih sangat tabu sekali membicarakan tentang kematian, apalagi pada saat acara-acara yang membahagiakan seperti pernikahan. Mereka percaya bahwa kematian adalah hal yang membawa ‘malapetaka’ atau ‘sial’. Contoh lainnya yang paling mudah dibicarakan adalah tradisi Tionghoa yang diadopsi dari tradisi Tiongkok yang melakukan kebiasaan dalam membakar uang kertas dan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas untuk anggota keluarganya yang meninggal, atau bahkan pelengkapan dan keperluan hidup mereka selama di akhirat yang semuanya terbuat dari kertas. Seseorang yang hidup di tengah-tengah keluarga atau lingkungan yang mempercayai tradisi ini bisa saja terdoktrin, bahwa kematian adalah akhir dari hidup di dunia menuju akhirat – tempat di mana seseorang dapat hidup seperti kehidupan di dunia, hanya saja bedanya orang tersebut dapat hidup lebih kaya dan sejahtera berkat harta kekayaan kiriman dari keluarganya di dunia. Sungguh kedengarannya terkesan lucu dan tidak masuk akal, namun begitulah suatu tradisi dapat memengaruhi pandangan seseorang mengenai kematian.

Sedangkan, faktor pendidikan juga mampu memengaruhi pandangan seseorang terhadap kematian. Contoh, orang yang tidak pernah bersekolah – tidak bisa membaca dan menulis, akan cenderung mempercayai begitu saja atas apa yang dikatakan orang lain mengenai arti kematian kepada dirinya, dia bisa saja mempercayai kata keluarganya, lingkungan tempat tinggalnya, ataukah tradisi yang dipercayainya. Dia tidak akan berusaha mencari tahu melalui bacaan, karena yang bisa diandalkan dari kepercayaannya adalah kata orang. Lain halnya dengan orang yang berpendidikan, rendah maupun tinggi sama saja – Orang yang sudah mengecap pendidikan umumnya lebih berpeluang memperoleh informasi di sekitarnya. Mereka mungkin saja dapat mencari tahu melalui sumber bacaan dari buku atau internet misalnya, otomatis dalam hal ini pendidikan juga dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap kematian.

Faktor terakhir yaitu Agama atau keyakinan, adalah faktor yang sangat berperan penting dalam memberikan suatu pandangan tentang berbagai hal bagi setiap orang – pemeluknya, dan biasanya arti kematian yang masuk melalui keyakinan lebih berdampak besar terhadap pola hidup dan pola pikir seseorang di kehidupannya. Lalu sejauh mana faktor agama atau keyakinan dapat memengaruhi pandangan seseorang mengenai kematian? Sebagian besar agama atau keyakinan di Indonesia memandang kematian sebagai kuasa ilahi, mereka yakin benar kalau hidup mati mereka ditentukan oleh Tuhan yang menciptakan mereka. Berbagai keyakinan pun mendefinisikan kematian secara berbeda-beda yang secara tidak langsung akhirnya memengaruhi bagaimana tiap orang memandang kematian dan menjalani hidupnya di dunia ini. Berikut ini adalah beberapa pandangan mengenai kematian menurut berbagai keyakinan di Indonesia:

Menurut ajaran Kristen, kematian ialah perpisahan antara tubuh dan roh. Mereka beranggapan kalau tubuh bersifat sementara atau fana , sedangkan jiwa atau roh kekal . Di dalam ajaran mereka berkata bahwa jiwa orang-orang yang berada di dalam Kristus akan menerima keselamatan roh pergi ke sorga , sedangkan jiwa-jiwa yang menolak Yesus akan masuk ke dalam siksaan api neraka . Sesudah itu mereka dihukum untuk selama-lamanya kelautan api kekal . Kemudian menurut Alkitab secara “konsisten” mengaitkan kematian itu dengan dosa atau maut . Mereka percaya kalau manusia ditetapkan untuk mati satu kali saja dan ada pula yang mengatakan bahwa kematian adalah hukuman Tuhan terhadap manusia, untuk itu sebabnya pada masa manusia itu diberi kesempatan untuk hidup, haruslah mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Jika kita lihat pengertian kematian di dalam ajaran Kristen, maka dapat disimpulkan bahwa saudara kita yang beragama Kristen pasti akan loyal terhadap agamanya dan harus yakin oleh keberadaan Yesus, menjalani apa yang diajarkan oleh Yesus kristus, karena jika tidak begitu mereka sudah tahu konsekuensinya bahwa jiwa-jiwa yang menolak Yesus akan masuk ke neraka (alam penderitaan tempat di mana seseorang menjalani siksaan atas dosa-dosanya ketika hidup).

Menurut ajaran Islam, kematian dinyatakan secara tegas di Al-Quranul Karim pada S.Ali ‘Imran: 185; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Di dalam ajaran Islam juga berkata, bahwa kematian itu adalah perpisahan antara roh dan jasad (tubuh) dan selanjutnya dikubur, tidak lama kemudian akan rusak dan hancur menjadi tanah. Mati berarti pergantian hidup jasad (tubuh) dengan hidup di akhirat, sebagaimana halnya lahir adalah pergantian hidup dalam kandungan ibu dengan hidup di alam bebas. Kemudian di Al-Quran (kitab suci umat Muslim) juga menilai kematian sebagai musibah malapetaka, istilah ini banyak ditujukan kepada para manusia yang durhaka (tidak cukup berbuat baik). Jadi dapat disimpulkan bahwa saudara kita yang memeluk agama Islam seharusnya akan cenderung menjalani hidupnya sebaik mungkin, karena walaupun di dalam ajaran Islam mengenal kehidupan setelah kematian, dan kematian adalah yang awal daripada suatu perjalanan panjang dalam kehidupan manusia, namun mereka beranggapan bahwa kehidupan mereka di dunia hanyalah datang satu kali dan semua pahala yang dilakukan semasa hidup mereka akan dihitung setelah akhir dari dunia/kiamat. Namun sayangnya tidak semua orang punya kesadaran untuk menjalani hidupnya dengan sebaik mungkin, setelah mengingat kehidupannya yang begitu singkat. Malahan banyak yang akhirnya hidup hanya untuk memuaskan nafsu keinginan karena berpikir hidup di dunia hanya satu kali.

Menurut ajaran Hindu kematian itu merupakan saat yang sangat penting, bahkan saat menentukan arti kehidupan seseorang. Agama Hindu mempunyai keyakinan bahwa dengan mengingat dan bersujud kepada Tuhan di saat meninggalkan badan kasar adalah sangat menentukan tempat yang akan dituju di alam sana. Di dalam ajaran Hindu, manakala ingatan masih bertahan – ini disebut tidur. Bila ingatan hilang sama sekali, disebut mati. Setiap orang Hindu mengharapkan agar mati di dekat sungai Gangga supaya tulang-tulang dan abu mereka dapat tenggelam di dalam air. Sehingga mereka dapat mengakhiri lingkaran kehidupan kembali.

Sedangkan ajaran Buddha tidak seperti keyakinan-keyakinan lain, Buddhisme memiliki pengertian yang sangat berbeda mengenai kematian. Menurut Buddhisme ketika seseorang dilahirkan, maka kehidupan itu sedang menuju pada kematian. Ajaran Buddhisme mengatakan bahwa kematian bukanlah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan tidak juga datang begitu saja. Buddhisme menggambarkan bahwa setiap kematian pasti memiliki sebab. Buddha bersabda, “O, para bhikkhu, ada empat macam sebab seseorang mengalami kematian. Apakah empat macam sebab itu? Berkenaan dengan hal ini, kematian dapatlah diumpamakan sebagai sebuah pelita :

–    Pelita padam karena sumbunya telah habis terbakar

–    Pelita padam karena minyaknya telah habis

–    Pelita padam karena sumbu dan minyaknya habis, dan

–    Pelita padam karena ditiup angin.

Inilah sebab-sebab kematian yang dialami oleh semua makhluk yang dilahirkan melalui kandungan, telur, kelembaban dan secara spontan menurut Buddhisme:

1.    Pelita padam karena sumbunya telah habis terbakar

Maksudnya adalah usia hidup rata-rata manusia telah mencapai titik akhir. Dalam Cakkavati Sihanada Sutta, Buddha mengatakan bahwa usia rata-rata manusia pada awalnya adalah 84.000 tahun. Kemudian seiring terjadinya kemerosotan moral, maka usia rata-rata manusia terus mengalami penurunan. Di zaman Buddha Goutama, usia rata-rata manusia adalah 120 tahun dan saat sekarang usia rata-rata manusia 65 tahun. Ini berarti telah terjadi sebuah kemunduran kualitas hidup.

2.    Pelita padam karena minyaknya telah habis

Maksudnya adalah energi karma untuk tetap hidup telah habis. Seorang pemuda suatu kali bertanya kepada Buddha, “Mengapa ada orang yang meninggal di usia muda sementara yang lain menikmati hidup sampai tua?” Buddha menjawab, “Orang yang meninggal di usia muda disebabkan pada masa lalunya telah banyak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup. Sementara orang yang berusia panjang, disebabkan ia mencintai kehidupan. Ia menghindari pembunuhan dan penganiayaan terhadap makhluk lain. Inilah alasan mengapa seseorang memiliki usia panjang ataupun pendek.”

3.    Pelita padam karena sumbu dan minyaknya habis.

Maksudnya adalah baik usia rata-rata kehidupan maupun energi karmanya sama-sama telah habis. Ini dapat diibaratkan dengan seorang tua yang meninggal pada usia rata-rata, misal di zaman sekarang batas maksimal umur manusia adalah meninggal pada usia 70 tahun.

4.    Pelita padam karena ditiup angin

Maksudnya adalah faktor eksternal yang menyebabkan kematian seperti kecelakaan karena kurang waspada, mengkonsumsi narkoba berlebihan, bunuh diri, aborsi dll. Bagi mereka yang menjalani hidup tanpa menjaga kewaspadaan, itu berarti sudah mati sebelum mati. Buddha mengatakan, “Kesadaran itu jalan menuju kekekalan. Kelengahan adalah jalan menuju kehancuran. Yang sadar tidak akan mati, tapi yang lengah seakan-akan telah mati.”

Di dalam agama Buddha sendiri, kematian dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1.    Khayaika marana = Kematian atau kepadaman unsur-unsur badaniah dan jasmaniah pada tiap-tiap akhir (bhanga).     Manusia sesungguhnya terdiri dari nama dan rupa. Manusia dikatakan hidup apabila nama dan rupa saling bersatu. Badan jasmani (rupa) terbentuk dari 4 (empat) macam unsur (caturmahabhuta), yaitu :

–    unsur padat – tanah (Pathavi dhatu)

–    unsur air – cair (Apo dhatu)

–    unsur panas – api (Thejo dhatu), dan

–    unsur gerak – angin (vayo dhatu).

Batin atau rohani manusia (nama) terdiri dari :

–    Perasaan (vedanā)

–    Persepsi atau kelompok pencerapan (saññā)

–    Bentuk-bentuk pikiran (sankhāra), dan

–    Kesadaran (viññāna).

Seseorang dapat dikatakan mati apabila kesadaran ajal (cujicitta) telah padam dalam dirinya. Begitu muncul sesaat, kesadaran ajal akan langsung padam. Kepadaman kesadaran ajal merupakan titik ajal bagi semua makhluk dalam kehidupan ini. Pada unsur-unsur jasmaniah, kematian ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup (jivitindriya).

2.    Sammuti marana = kematian makhluk hidup berdasarkan kesepakatan umum yang dibuat oleh masyarakat dunia. Contohnya seperti pengertian kematian menurut pengertian umum ataupun dari segi medis.

3.    Sammuccheda marana = Merupakan keterputusan daur penderitaan (terputusnya lingkaran kehidupan) pada arahat (sebutan dari salah satu tinggkat kesucian di dalam ajaran Buddha). “Mereka yang berkelakuan baik adalah seperti bumi yang tidak pernah bertentangan dengan apa pun, tenang seperti benteng kota, tidak membenci seperti air danau yang jernih ; baginya tidak ada lagi tumimbal lahir (sangsara)” Dhammapada bab VII : 95.

Inilah faktor-faktor yang memengaruhi pandangan seseorang terhadap kematian, yaitu faktor keluarga, lingkungan, tradisi, pendidikan dan agama atau keyakinan.

Dapatkah Kita Terhindar dari Kematian?

Dari setiap arti kematian di atas, jelaslah bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai kematian. Begitu pula dengan tindakan dan pola hidup mereka dalam menghadapi kematian. Lalu sebenarnya dapatkah kita terhindar dari kematian dan menyelamatkan semua makhluk agar terhindar dari kematian?

Menjawab pertanyaan tersebut ada satu pengalaman menarik yang ingin akan saya ceritakan di dalam tulisan ini. Beberapa waktu setelah sepeninggalan nenek saya, saya mempunyai seekor anak anjing yang sangat lucu. Saya senang jika melihat ia berjalan, karena menurut saya caranya berjalan amatlah lucu. Suatu hari anjing saya ini berjalan-jalan dan bermain di luar rumah. Ia berjalan menuju jalan yang dilalui oleh setiap orang. Kemudian, ketika ia sedang mengerakkan langkah-langkah kakinya yang lucu, sebuah gerobak dagangan datang melintas dan menggiling tubuhnya yang mungil. Hal ini terjadi tepat di depan mata saya dan sempat membuat saya terkejut. Saya pun segera menghampiri anak anjing itu. Dia masih hidup, dia masih dapat bergerak dan dia sekarat. Walaupun di tubuhnya tidak terdapat luka luar, tetapi saya yakin dia sedang sekarat dan hampir mati. Saya berusaha keras untuk menolongnya dan menyelamatkan nyawanya dari kematian. Saya memeluk tubuhnya yang kecil dan berlari meminta pertolongan kepada setiap orang-orang dewasa yang ada saat itu. Di tengah-tengah kesekaratannya saya menceritakan hal yang telah terjadi pada anak anjing saya ini kepada orang-orang dewasa itu. Saya berharap akan ada satu cara yang dapat menyelamatkan nyawanya dari kematian. Sampai akhirnya ada salah satu orang dewasa dari saudara saya yang menganjurkan saya untuk menempatkan anak ajing itu di bawah pengki (tempat untuk memindahkan sampah terbuat dari anyaman kulit bambu yang terbentuk terbuka dan agak ceper) agar pencabut nyawa tidak berani datang mendekat dan mengambil nyawa si anjing, katanya. Tak pelik saat itu saya yang masih kecil dan hijau akhirnya menuruti anjuran tersebut. Saya pun mulai mencari sebuah pengki bambu di rumah saya. Namun, saya tidak dapat menemukannya, yang ada di sana hanyalah sebuah pengki plastik. Saya yang seakan tahu bahwa anak anjing ini tak punya banyak waktu untuk menunggu, tak berputus asa dan berlari, bergegas meminjam kepada para tetangga. Sampai kemudian, usaha saya pun tak sia-sia, ada dari tetangga saya yang akhirnya meminjamkan satu buah pengki bambunya. Secepatnya saya taruh anak anjing saya yang sudah lemas itu di bawah pengki tersebut, dan saya menungguinya dengan gelisah. Beberapa menit setelah itu, karena tak tahan menahan tubuh kecilnya yang sakit, akhirnya anak anjing itu pun terkulai tak bergerak, nafasnya terhenti. Ketika itu saya bingung, hal apa lagi yang harus saya perbuat untuk menyelamatkan anak anjing saya ini. Lalu saya kembali lagi menemui si orang dewasa yang memberikan saran tadi, dan menceritakan apa yang telah terjadi. Kali ini dia memberitahu saya untuk menyiram anak anjing tersebut dengan air. Mendengar hal tersebut, dan tanpa pikir panjang karena berharap cara ini dapat berhasil, saya pun bergegas untuk mengambil segayung air dan berlari menghampiri tubuh anjing saya yang kemungkinan sudah mati itu. Saya siramkan air itu ke tubuhnya. Bulu-bulunya menjadi kuyub, namun ia tetap tidak bergerak dan berhenti bernafas. Saat itu saya menyadari kalau anak anjing saya ini sudah mati dan segala cara yang sudah saya lakukan itu tidaklah berhasil menyelamatkan nyawanya. Dengan perasaan sedih dan berlinangan air mata, saya mengangkat tubuh anak anjing saya itu dan menguburkannya di dalam tanah. Saya menangis, merasa sangat kehilangan dan menyesal karena tak dapat menyelamatkannya.

Jika mengingat kejadian itu sekarang ini, terkadang saya ingin tertawa geli, yang tak lain adalah menertawai kebodohan saya sendiri. Tapi itulah kenyataan hidup yang kadang kala kita alami, ingin berbuat baik tetapi dilakukan dengan cara yang bodoh. Namun, terkadang seseorang akan menjadi bodoh jika menghadapi kematian dalam hidupnya. Sarat pertanyaan selalu muncul dibenaknya, apakah kematian dapat dihindari? Buddha pernah berkata, “Hidup ini tak pasti, mati adalah pasti. Ketika buah telah masak, buah itu dapat jatuh di pagi hari. Demikian pula, sesuatu yang terlahir akan mati setiap saat. Bagaikan semua periuk yang dibuat oleh semua ahli tembikar akan berakhir dengan terpecahkan, begitu pula dengan kehidupan dari semua yang terlahirkan. Tidak muda maupun tua, bodoh maupun bijaksana, akan terlepas dari perangkap kematian. Semuanya menuju kepada kematian” Ada kelahiran pasti ada kematian. Ini adalah hal yang wajar dan alamiah. Lalu, mengapa kita bersedih dan takut akan kematian?

Ada kalanya kita sulit sekali menghadapi kematian, kehilangan orang yang kita cintai untuk selamanya. Hal ini dikarenakan kemelekatan kita pada mereka. Contoh ini pula terjadi pada seorang wanita yang hidup pada masa Buddha Goutama yang bernama Visakha. Ketika ia kehilangan cucu perempuannya yang sangat ia kasihi, ia pergi menemui Buddha dan meminta nasihat untuk mengatasi kepiluannya. Lalu, Buddha bertanya kepada Visakha, “Visakha, inginkah kamu memiliki anak dan cucu sebanyak anak-anak di kota ini?”

“Ya Bhante, saya ingin.” jawab Visakha.

“Tapi berapa banyak anak yang mati setiap hari di kota ini?”

“Banyak Bhante, selalu saja ada yang mati di kota ini.”

“Karena itu Visakha, akankah engkau menangisi mereka semua? Visakha, mereka yang mencintai seratus hal, akan menderita seratus hal. Ia yang tak memiliki kemelekatan apapun, tak akan menderita. Orang seperti itu bebas dari penderitaan.”

Bagaimana Menghadapi Kematian?

Kita merasa sedih, karena kita melekat terhadap sesuatu itu, melekat terhadap yang kita cintai. Kalau kita mengembangkan kemelekatan, maka kita semestinya bersiap-siap menanggung penderitaan kalau suatu ketika perpisahan terjadi, salah satunya adalah kematian. Banyak orang yang takut akan kematian. Banyak juga di antaranya yang melakukan berbagai cara untuk mengatasi kematian, seperti percaya akan ketakhayulan-ketakhayulan ataupun hal-hal gaib dan ilmu hitam. Kita rela melakukan apa pun demi menghindari kematian. Namun, semua itu tetap tidak akan menghindari ataupun melepaskan kita dari kematian. Seperti halnya cara yang saya lakukan terhadap anak anjing saya, apa pun caranya kematian akan tetap datang menjemput cepat atau lambat. Lalu, apakah kita harus takut terhadap kematian ataukah pasrah dengan hidup kita karena kematian suatu saat akan menjemput dan datangnya secara tiba-tiba? Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi rasa takut akan kematian? Salah satu hal yang bisa membantu kita terlepas dari ketakutan akan kematian adalah dengan memahami dan merenungkan makna dari kematian. Di dalam Buddhisme, Buddha menganjurkan kepada siswa siswinya untuk menjalani perenungan tentang kematian yang disebut marananussati bhavana (kematian akan datang). Perenungan kematian ini baik dan bermanfaat jika dilakukan dengan benar, karena dapat menghancurkan khayalan, menghancurkan nafsu berlebihan, memberi keseimbangan, dan pandangan sehat mengenai nilai kehidupan. Pada saat melakukan perenungan, kita harus memahami dengan benar manfaat apa sajakah yang akan kita peroleh dalam mengingat kematian. Ada pun manfaat mengingat kematian secara singkat adalah :

1.    Kita akan sadar bahwa kita akan mati dan kita tidak akan menuju kehidupan selanjutnya. Maka ini akan membuat perubahan yang besar pada tingkah laku kita. Kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan 10 perbuatan bajik agar terlahir ke alam yang lebih baik. Apakah 10 perbuatan bajik itu? Dana (kedermawanan), Sila (moralitas), Nekkhama (meninggalkan nafsu Indria), Pannya (kebijaksanaan), Wiriya (daya upaya), Khanti (kesabaran), Sacca (kejujuran), Adhitthana (tekad), Metta (cinta kasih), Upekkha (batin yang seimbang).

2.    Dengan mengetahui kematian itu akan datang, kita akan mengurangi segala sesuatu yang melekat, berusaha menghancurkan kilesa (kekotoran batin).

3.    Dengan mengingat kematian, kita akan berusaha untuk melakukan praktik Dhamma setiap saat—berbuat kebajikan, menghindari dan tak berbuat kejahatan, mensucikan pikiran.

4.    Dengan mengingat kematian, lalu mempraktikan Dhamma dengan benar, maka dengan mudah kita berkata pada diri kita masing-masing, “Saya telah berpraktikan dengan benar, kapan pun saya mati, saya siap untuk itu. Saya tidak akan menyesal.”

Itulah renungan kematian yang baik sekali jika dilakukan secara rutin dan disertai dengan pegertian benar. Jika perenungan ini dihayati, tentu hal ini akan membatu seseorang untuk menjalani hidupnya sebaik mungkin.

Lakukan sebelum dia datang menjemput

Pada saat melakukan perenungan kematian, kita juga akan menyadari bahwa kematian akan terjadi pada setiap makhluk, kapan saja dan di mana saja. Diri kita, saudara kita, orang yang kita cintai, binatang peliharaan kesayangan kita, musuh kita, bahkan semua makhluk di sekeliling kita yang telah dilahirkan akan mengalami kematian. Oleh karenanya gunakanlah waktu yang ada dengan hal yang bermanfaat. Ada satu cerita kalau waktu kita saat ini sangatlah berharga. Empat tahun yang lalu, tepatnya sehari sesudah tahun baru, teman sekolah saya meninggal dunia. Dia tinggal tak jauh dari rumah saya, dia masih muda dan belum menikah. Sehari sebelum meninggal dia sempat merayakan tahun baru bersama seorang wanita yang tak lain adalah pacarnya. Mereka sudah lama menjalin hubungan dan mungkin akan segera menikah. Namun apa mau dikata, keesokan harinya laki-laki muda ini terkena aliran listrik ketika ia sedang bekerja dan meninggal seketika. Semua orang, termasuk orang tua dan pacarnya tidak menyangka kejadian itu akan terjadi. Apalagi hari sebelumnya dia masih sehat, segar bugar dan sempat merayakan tahun baru. Kejadian ini di luar dugaan semua orang yang mengenalnya. Tetapi itulah kehidupan, kita tak akan pernah tahu kapan akan berakhir, tapi kita tahu semua itu pasti ada akhirnya. Walaupun merasa amat sedih dan kehilangan, mau tidak mau keluarga dan pacarnya ini harus menerima kenyataan yang pahit itu.

Itulah kematian, datangnya tak pernah diduga, datangnya tiba-tiba. Benar halnya sebuah ungkapan yang berbunyi kalau waktu tak dapat menunggu kita. Kita seharusnya tak pernah menunda waktu yang ada untuk berbuat baik dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Karena sebanyak waktu yang kita habiskan, sebanyak itu pula sisa waktu hidup kita di dunia ini, di kehidupan yang kita jalani sekarang ini. Menyadari hal ini semua, manusia mungkin akan melakukan hal yang baik-baik saja dan menggunakan waktunya yang singkat itu dengan hal yang bermanfaat. Ketika itu, mungkin manusia cenderung mengalah dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, cenderung memberi daripada menerima, cenderung mengasihi daripada menyakiti, cenderung memaafkan daripada menghakimi. Lalu di saat itu, dunia ini akan terasa menyenangkan, damai, tenang, tentram, serta dipenuhi oleh cinta kasih dan welas asih. Sungguh kesadaran yang begitu sederhananya, namun mampu mengubah wajah dunia yang penuh peperangan, kebencian dan keserakahan, dengan dunia yang penuh kasih dan kebahagiaan. Waktu tak dapat menunggu kita, begitu juga kematian tak dapat berbicara jika saatnya telah tiba, untuk itu gunakanlah waktu kita yang masih tersisa ini dengan baik dan bermanfaat. Siapa pun Anda, apa pun tradisi dan agama Anda, Terus belajarlah, berlatih dan menebarkan cinta kasih terhadap semua makhluk saat ini, bukan besok ataupun lusa. Lakukanlah saat ini!

Daftar pustaka:

Dhammananda, Sri, 2004. “Be Happy.” Cetakan ke-2. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.

Dhammika, Shravasti, 2006. “Buddha Vacana – Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha.” Edisi Revisi Februari. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.

Nyanakumuda, 2006. “Nuansa Hidup.” Edisi ke-12.Palembang: Yayasan Svarnadipa Sriwijaya.

Luis.C, 2005. “Kematian.” Buletin triwulan kamadhis UGM Eka-Citta, No.XXIV. Yogyakarta.

Simon,2005. “Proses kematian (medis).”

Buletin triwulan kamadhis UGM Eka-Citta, No.XXIV. Yogyakarta. “Perenungan kematian.” Buletin triwulan kamadhis UGM Eka-Citta, No.XXIV. 2005.     Yogyakarta.

http://sites.google.com/a/saumimansaud.org/www/kematian

http://ipislam.edu.my/index.php/artikel/read/104/menghadapi-kematian

http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/01/artikel-arti-dan-makna-kematian.html

(Rom. 6:12), (Mat. 10:28),  (1 Kor. 5:5), (1 Ptr. 3:20), (Why 20:15), (bdn kej.2:17; Maz 90:7-11; Rm 5:12;6:23;1 Kor 15:21 dan Yak 1:1-5), Ibr 9:27,  SN (Samnyuta Nikaya) 574-581,

Artikel ini adalah artikel perlombaan menulis artikel Dharma yang diselenggarakan oleh LPAD – MBI DKI Jakarta pada tahun 2010, Juara III 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s