Blind Café ‘Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati’


 

 

Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya menjadi buta? Pernahkah kita membayangkan apa yang bisa kita lakukan jikalau kita tidak lagi memiliki penglihatan yang sudah menemani kita selama bertahun-tahun masa hidup kita? Pernahkah terpikirkan bagaimana rasanya Anda melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berjalan, berinteraksi dengan teman atau keluarga jikalau Anda tidak bisa melihat? Jikalau kita seandainya mengalami buta untuk beberapa saat, apakah yang akan ada di benak kita saat itu? Mungkin dengan begitu kita akan mulai menghargai orang-orang yang mempunyai kekurangan, menghargai mereka yang tidak bisa melihat, dan mulai menghargai semua fungsi tubuh kita termasuk mata yang sudah berjasa besar dalam hidup kita? Berterima kasihlah saya pada satu tempat yang ada di Bandung yang bernama ‘Blind Café’. Tempat inilah yang mengajarkan saya bagaimana rasanya menjadi buta dan menghargai mereka yang buta.

“Blind Cafe” Counter pemesanan makanan

Blind Café (rumah makan buta) bukan hanya sekedar nama saja, tetapi tempat makan ini memang dirancang khusus agar Anda tidak bisa melihat di kegelapan dan benar-benar seperti orang buta – tidak bisa melihat ketika Anda sedang makan. Tempatnya tidak terlalu besar dan gedungnya bernuansa cat hitam putih. Jika Anda sampai di depannya Anda akan melihat pintu kaca tembus pandang yang telah dipenuhi oleh coretan-coretan testimoni dari para pelanggannya yang pernah berkunjung ke tempat ini.

Pelanggan bisa menuliskan testimoninya pada kaca di sekeliling cafe.

Sesampainya di depan kasir, saya berserta dua orang sahabat dimintai untuk memilih menu. Makanan yang disajikan di sini cukup bervariatif dan kebanyakan dari menu yang ditawarkan adalah berupa makanan western seperti fried cheese potato (kentang goreng keju), fried sausages (sosis goreng) dll. Tapi ada pula makanan khas Indonesia seperti macam-macam nasi goreng, dari nasi goreng petai sampai nasi goreng seafood. Untuk harganya lumayan tidak terlalu menguras kantong, apalagi di sini tersedia paket hemat senilai Rp. 30.000,- rupiah dengan tiga pilihan menu berupa makanan dan minuman. Karena jenis makanan dan minuman pada paket hemat ini lumayan ringan saya dan sahabat pun memesannya agar tak repot saat makan di kegelapan nanti (hahahaha). Menu paket hemat yang saya pesan adalah Omelet, Potato Cheese dan 1 botol air mineral, sayangnya saya lupa mengambil foto makanan tersebut sebelum dan sesudah dihidangkan.

Ruang Tunggu Blind Cafe yang tempatnya berseberangan dengan Conter pemesanan makanan

Setelah memilih menu saya diajak ke sebuah tangga menuju ke lantai dua, tetapi sebelum ke ruangan makan kita diwajibkan untuk menyimpan barang-barang bawaan kita (termasuk HP) ke dalam loker yang sudah disediakan tepat di depan dekat pintu masuk kafe. Selesai menyimpan semua barang-barang, saya pun bergegas menuju ruang makan, yang tersisa di kantong saya saat itu hanyalah sebuah kunci loker beserta uang di dalam saku (jaga-jaga takut semua barang hilang dan saya akhirnya tak bisa pulang ke Tangerang wkwkwkw). Untuk naik ke ruangan makan kami dipandu oleh seorang waiter (pelayan) tunanetra yang sudah buta sejak lahir, namanya mas Mikam. Untuk mulai berjalan, Sahabat saya diminta untuk memegang pundaknya dan saya mengikutinya dari belakang. Sedikit demi sedikit lama-lama keadaan ruangan semakin remang dan akhirnya setelah melewati sebuah tirai hitam, ruangan itu menjadi benar-benar gelap. Saya berusaha untuk menutup mata, berharap setelah membuka mata nanti mata saya akan mampu menyesuaikan terhadap ruangan. Tetapi ternyata tak ada sedikit pun cahaya yang bisa ditangkap oleh mata saya. Keadaan benar-benar gelap dan saya benar-benar menjadi seperti orang buta. Walaupun berjalan diurutan paling belakang, saya tak henti-hentinya meraba-raba keadaan sekitar, karena benar saja saya hampir menabrak sesuatu di sebelah kiri jalan. Pada saat saya melakukan hal ini berulang-ulang, saya merasakan fenomena yang jarang sekali saya perhatikan. Sesekali saya menyentuh atau meraba sesuatu, pikiran saya dengan cepat membayangkan bentuk dan warna dari benda-benda tersebut. Ternyata fenomena ini dirasakan pula oleh kedua orang sahabat saya dan mungkin hal ini juga yang dialami bagi mereka yang buta sejak lahir, hanya saja mereka tidak akan membayangkan warna dari benda tersebut karena mereka memang belum pernah mengenal konsep warna, (kecuali hitam <mungkin>). Akan tetapi saya salut sekali dengan mereka, khususnya oleh mas Mikam yang memiliki insting serta ingatan yang tajam.

Sampailah kami akhirnya di sebuah meja makan. Saya yang tak henti-hentinya meraba-raba setiap apa saja yang ada di sekitar, membayangkan kalau meja itu berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu yang dicat hitam. Lalu saya pun membayangkan bentuk dari sofa panjang yang saya duduki seorang diri, beserta dinding di sebelah kanan saya yang terbuat dari kayu. Sepertinya semua peralatan di sana memang dibuat dan dirancang khusus dengan menggunakan material yang tepat untuk keselamatan pengunjung, seperti meja, tembok yang terbuat dari kayu (semacam papan tapi tidak tipis) dan sofa yang empuk jika diduduki.

Di ruangan itu tak terdengar satu pun suara dari pengunjung lain, menandakan kalau hanya ada kami bertiga di sana, ditambah oleh mas Mikam yang bersedia menemani kami selama menunggu pesanan datang. Tak ada satu pun objek visual yang dapat saya nikmati, hanya suara-suara saja yang bisa saya dengar, dan gambaran-gambaran di pikiran saya yang membayangkan wajah dari orang yang sedang berbicara. Tak lama sebelum hidangan datang, mas Mikam menawarkan saya apakah ingin memakai garpu untuk memotong Omelet. Tadinya saya berpikir bagaimana pula caranya mengunakan alat-alat itu dalam keadaan gelap. Tetapi karena penasaran ingin mencoba, diberikannyalah garpu dan pisau itu oleh mas Mikam ke tangan saya. Sesekali mas Mikam yang umurnya 32 tahun ini berjalan ke sana – ke sini mengantarkan sesuatu yang kami inginkan, entah itu tissue ataukah sambal saus yang saya minta untuk dituangkan ke atas Omelet saya. Saya tidak tahu pastinya di mana mas Mikam menuangkan sambal saus itu, karena berkali-kali saya mencoba memotong dan memakan Omelet tersebut, tak banyak sambal saus yang dapat saya rasakan, sampai akhirnya saya berusaha sendiri untuk menuangkan sambal saus itu ke dalam piring, tapi harus dengan tekhnik khusus pastinya (hehehe). Tetapi saya sungguh tidak tahu sebanyak apakah sambal saus yang sudah saya tuang di piring itu.

Sesekali saya meminum air mineral di dalam botol plastik yang sengaja saya rapatkan di pojok dinding agar saya dapat dengan mudah mengambilnya. Tetapi bagi sahabat saya yang memesan Lemon Tea di dalam gelas, ia harus berhati-hati mengambil gelasnya. Karena bisa saja gelasnya tersenggol, jatuh dan pecah. Kejadian semacam itu adalah hal yang biasa kata mas Mikam, dan Ayah dari satu anak itu bilang pengunjung Blind Café tak usah khawatir jikalau gelas atau pirinyanya pecah (sebenarnya bukan khawatir karena pecah, tapi khawatir akan ganti rugi jikalau pecah hahaha). Omelet pun akhirnya habis di piring saya. Setelah berhasil bertarung dengan Omelet mengunakan pisau dan garpu, inilah saatnya bagi saya untuk makan kentang goreng yang masih tersisa di piring dengan jurus meraba-raba (diobok-obok hahaha…)

Mas Nikam (the Waiter), penulis dan kedua teman penulis yang ada di belakang.

Acara makan sore saya saat itu benar-benar merupakan pengalaman yang menakjubkan, bukan hanya rasa makanan yang saya rasakan tetapi juga rasa syukur akan kehidupan yang selama ini saya jalani. Banyak hal yang saya lupakan dan lewatkan selama melakukan kegiatan rutinitas sehari-hari, banyak juga hal yang saya tidak perhatikan selama menjalani hidup di dunia terang, dunia yang dipenuhi oleh warna-warni keindahan duniawi yang tidak mampu dilihat oleh mereka yang buta. Tetapi mereka yang buta tidak menjadikan dirinya terpuruk dan merasa kekurangan, tetapi melatih diri mereka dari apa yang tidak dipunyai oleh mereka yang bisa melihat. Mereka melatih merasakan, tidak hanya merasakan dengan sentuhan, tetapi juga merasakan dengan hati, dan bagaimana cara mempertahankan hidup di dalam kegelapan… Dunia gelap yang penuh dengan misteri di pikiran semua orang yang belum pernah menjadi buta.

By Selfy Parkit

Blind Café 15 February 2010.

One thought on “Blind Café ‘Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati’

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s