Puding Kasih


“Tik.. tok… tik… tok…” bunyi detik jam di ruangan yang lumayan besar dan bersih itu seakan memperingatkan Nisa untuk segera bangkit dari tempatnya dan berpamitan. Namun Adit kecil sungguh tidak mudah diajak bekerjasama olehnya. “Ayolah Adit cepat tulis, kan tinggal satu jawaban lagi nih!” seru Nisa sambil menunjukkan kolom pertanyaan yang harus Adit isi. Seruannya menandakan bahwa betapa ia dikejar waktu untuk bergegas pulang. Tetapi Adit si murid les-annya itu hanya menggoyang-goyangkan pensilnya sambil tak berhenti cengar-cengir. “Adit…! Kalau tidak cepat ditulis, Miss bakal tambahin waktu belajarnya!” sahut Nisa tegas. Rasanya habis sudah kesabaran Nisa untuk membujuk Adit dengan metode rayuannya yang sering sekali dia pakai, sudah begitu mau tidak mau metode mengancam dengan konsekuensi akhirnya keluar dari mulut Nisa. Karena tak ingin waktu belajarnya berlanjut dengan Nisa, Anak laki-laki berumur delapan tahun itu pun mulai menggerakan tangan kanannya. Pensil itu bergerak sangat lambat, dari atas ke bawah, dari kanan ke kiri… Akhirnya selesailah sudah tugas Nisa yang penuh pergulatan itu selama satu jam lamanya.

Lega rasanya bagi Nisa jika sudah menapakan kakinya di depan rumah anak didiknya yang megah itu. Walaupun pergulatan dalam satu jam itu terasa setahun bagi Nisa, dan memang kenyataannya Nisa perlu uang, karena ekonominya saat ini menggencet Nisa habis-habisan agar terpenuhi setiap bulannya. Ditambah lagi ayahnya sudah tidak bekerja lagi karena usia tua, dan adik satu-satunya baru masuk Sekolah Menengah Pertama dan perlu menghabiskan biaya sekolah yang tidak kecil jumlahnya. Namun baginya Adit adalah anak didiknya yang ia sayangi, dan ia merasa perlu mengajarinya.

Langkahnya mulai bergerak cepat, dan nafasnya pun mulai tersengal. Nisa tak mau untuk kedua kalinya ketinggalan kereta dan harus pulang naik bis yang penuh sesak dan harus berdiri berhimpitan seperti Ikan Sarden. Apalagi hari ini dia membawa dua buah Puding yang tersimpan rapi di dalam kotak plastik di tasnya, dan ia tak mau kalau pudingnya itu nantinya gepeng terhimpit-himpit oleh penumpang bis. Memang Puding itu ia dapatkan secara cuma-cuma dari orangtua muridnya di sekolah yang hari itu anaknya berulang tahun, namun alih-alih Puding itu ingin sekali dia berikan kepada orangtua dan adiknya Nisa tak mau sampai membuat Puding coklat berlapis strawberi itu rusak.

“Tut… tut… tut…” teriakan kereta api seakan terdengar merdu bagi Nisa, dan perutnya yang keroncongan pun seketika mulai bisa diajak kompromi. ‘Saatnya untuk pulang’ bisik suara hatinya. Nisa sengaja tidak pernah mau mengisi perutnya jika sudah dalam perjalanan pulang, selain memilih untuk makan masakan ibunya, kebiasaan itu juga bisa itung-itung untuk berhemat pikirnya. Menit demi menit di dalam kereta sungguh merupakan waktu berharga baginya, karena hanya di sanalah ia bisa menyandarkan tubuhnya dan beristirahat sejenak. Kelelahannya terkadang membuatnya tak sadarkan diri sejenak, namun karena pikirannya yang terus menerus berputar membuatnya tetap terbangun.

Hidup dan beban di pundak terasa berat jika ia sudah mulai memikirkannya, entah seberapa banyak air matanya yang tak terbendung telah menetes di dalam kereta. Walaupun Nisa adalah perempuan pekerja keras yang tegar, namun walaupun begitu adakalanya ia terlalu lelah dalam memikul beban hidup ekonomi yang terus berkepanjangan dan menghimpitnya. Beberapa hari lalu ia harus membiayai rumah sakit ayahnya yang tiba-tiba terkena stoke ringan, dan seketika itu semua tabungannya ludes tanpa bersisa. Dengan itu ia pun harus bekerja lebih keras lagi, yaitu dengan mencari anak les sepulang kerja. Nisa mulai menyapu kembali kedua matanya dengan sapu tangan. Rasanya sudah cukup baginya untuk menangis, karena petugas kereta tak lama lagi akan segera menghampirinya dan meminta tiket darinya.

Beberapa menit kemudian roda-roda di bawah kereta pun mulai memekikan suara nyaringnya dan berhenti perlahan-lahan. Asap kereta pun berhamburan ke udara bersamaan dengan buyarnya para penumpang dari dalam kereta. Nisa bergegas tak mau kalah cepat melangkahkan kakinya keluar dari mulut pintu kereta. Dengan menggendong tas di punggungnya ia pun berjalan menyusuri pinggir jalan trotoar. Dilihatnya banyak sekali pengamen-pengamen kecil di sekitarnya. Mereka masih sangat muda, ada pula yang masih seumuran Adit anak didiknya. Ada pula anak-anak kecil berumuran dua atau tiga tahun yang sebaya dengan anak-anak didiknya di sekolah, dibawa oleh ibunya untuk mencari uang dengan cara meminta-minta. Ngenes rasanya perasaan Nisa jika menyaksikan keadaan itu di depan matanya. Sebagai seseorang yang hidup di dua dunia, terkadang Nisa merasa ironis dengan kenyataan yang ia ketahui adanya. Di sekolah sudah biasa anak-anak didiknya berkelimpahan makanan, dan malah terkadang makanan mereka tidak dihabiskan dan dibuang begitu saja. Di sisi lain Nisa menyaksikan para anak jalanan di kereta malah berebut makanan hampir setiap harinya. Begitu pula dengan gaya hidup dari dua dunia yang ia kunjungi, membuatnya tak habis pikir mengapa hal itu harus terjadi. Adit anak didiknya yang tinggal di dalam rumah yang mewah, ranjang yang empuk, makanan yang berkelebihan, pendidikan yang terpenuhi dan terkadang harus kesepian karena kedua orang tuanya bekerja mencari nafkah. Tapi di dunia lain yang ia kunjungi sepulang kerja sungguh kebalikannya, mereka tinggal dan tidur di kolong jembatan atau di pinggir-pinggir jalan, mereka beralaskan tanah dan berselimutkan langit serta bintang malam, makanan entah apa yang mereka makan itu pun jadi, namun terkadang gelak tawa mereka lebih lepas dan bebas walaupun memang ada luka yang dalam tersembunyi di balik sana.

Seketika saja pemikiran-pemikiran seperti itu membuat kekalutan akan bebannya berkurang. Langkahnya pun menjadi tenang dan damai, perutnya menjadi kenyang dan rasa haru untuk orang-orang di sekelilingnya itu pun muncul di lubuk hatinya. Langkahnya yang semakin sempit itu pun berhenti sejenak di hadapan seorang ibu tua dengan bokor kalengnya tempat menampung uang sumbangan. Di samping ibu tua yang pakaiannya sudah kumal itu tertidur seorang perempuan yang dibungkus selimut yang tak kalah kumalnya, ia adalah anak perempuan si Ibu tua yang kelihatannya berumur belasan. Ibu tua ini sudah lama ia lihat sejak bertahun-tahun lalu ketika Nisa masih di bangku Kuliah, dulu ibu itu ditemani oleh seorang kakek dan anak laki-lakinya yang masih balita. Namun lama kemudian si Kakek dan anak laki-laki tersebut mendadak tak terlihat lagi. Mungkinkah mereka sudah meninggal? Atau pergi kemanakah mereka? Nisa tidak pernah berani menanyakannya kepada si ibu tua.

Dirogohnya dua keping uang logam di dalam saku celananya, dan dimasukan ke dalam bokor yang masih kosong itu. “Klengting… klenting… ting” bunyinya sejenak mendamaikan hati Nisa, saat itulah ia mulai bersyukur akan keadaan hidupnya. Walaupun susah ia masih bisa makan dan memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain, dan hal itu terkadang tidak disadari olehnya, malah ia terbawa hanyut oleh penderitaannya. Si ibu tua pun tersenyum bahagia atas dua keping uang logam yang bagi Nisa tidak terlalu berharga, namun baginya sungguh amat sangat berharga. Nisa pun melenggang melanjutkan perjalanan. Bahagia masih meliputi batinnya, dan  teringatlah keluarganya di rumah. Sejenak ia kembali menghentikan langkahnya, memutar balik arah tujuannya dan kembali menghampiri si Ibu tua yang bokor kalengnya sudah kembali kosong. Namun Nisa tersenyum, mulailah ia membuka tas punggungnya dan mengeluarkan dua buah Puding coklat dalam kotak plastik yang dibawanya. Puding coklat berlapis strawberi nan penuh kasih, yang tadinya hendak ia berikan kepada keluarganya di rumah, diserahkan kepada Ibu tua itu. Muka si Ibu tua mendadak cerah, “Terima kasih neng.” Katanya kepada Nisa. Nisa tersenyum lalu bangkit berdiri, hati nuraninya berbisik, ‘Aku masih mampu memberikan yang lebih daripada Puding itu kepada keluargaku kapan pun, namun tak tahu kapan dapat memberikannya kepada mereka’. Keharuan yang meliputi dirinya menyatu dengan semangatnya untuk berjuang di dalam hidup, namun saat itu bukan lagi untuk diri sendiri dan keluarganya semata, tetapi juga demi kesejahteraan mereka yang hidup di satu sisi dunianya.

By Selfy Parkit

3 thoughts on “Puding Kasih

  1. Jika kita sedang ada di posisi PUNCAK…sering-sering lah melihat ke BAWAH…agar tidak menjadi manusia SOMBONG…
    Jika kita sedang ada di posisi TERPURUK…jangan lelah untuk terus melihat ke ATAS…agar tidak menjadi manusia PESIMIS…

    Cerita ini sungguh bagus,,menggambarkan kenyataan dalam hidup dan semangat juang dalam hidup ^^ like this ^^

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s