Ugly Duckling – Fenomena Pikiran


 

Hidup seakan-akan mendadak terhenti jika pikiran mulai bermain dalam bayang-bayang antara masa lalu yang telah terjadi dan masa depan yang belum pasti terjadi. Ketika itu bola dunia pun terasa berhenti berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari sebagai porosnya, lalu siang dan malam lewat begitu saja tanpa sempat Aku menyapanya.

Aku tak menyadari kapan tepatnya fenomena itu mulai menghantuiku, di mana masa laluku yang pahit seakan menghantarkanku menuju masa depan yang terasa hambar, dan itu semua memberikan ketakutan yang luar biasa di dalam benakku. Namun Aku tahu ketakutan itu hadir di saat dia mengisi hidupku, sesosok manusia bijak yang tak lekang dari ingatanku, Ugly Duckling. Begitulah sebutan mesra yang selalu ku kumandangkan untuk menyatakan dan mengungkapkan rasa sayangku kepadanya.

Walaupun panggilannya Ugly Duckling yang artinya bebek jelek, bukan berarti romannya seperti yang akan kita bayangkan. Ugly Duckling adalah sesosok pria yang banyak diidam-idamkan kaum hawa yang haus akan keindahan. Meskipun Aku sempat mengagumi dan terpesona oleh ketampanannya, namun bukan berarti Aku adalah salah satu dari kaum-kaum hawa tersebut, dan bukan sebab itu pulalah alasannya mengapa kami dapat bersama. Pertemuan kami bukanlah sekedar kebetulan belaka, tapi Aku yakin bahwa karmalah yang telah menyatukan Aku dan dirinya.

Jika Aku mulai memikirkan dirinya, seketika Aku akan teringat oleh perkataan orang bijak, “Hindarilah kemelekatan, karena kemelekatan itu bisa menyebabkan dirimu menderita.” Mungkin hal itulah yang Aku alami, Aku melekat pada sesosok Ugly Duckling, melekat pada pribadinya, dan melekat oleh semua yang ada pada dirinya. Aku tahu kemelekatan pasti membuatku menderita, namun Aku tak mampu menolak ataupun menepis saat-saat indah ketika Aku dan Ugly Duckling menuai kebahagiaan dengan tawa dan bisikan-bisikan merdu tentang masa yang akan datang, hari di mana Aku mulai terikat dan akan melekat kepadanya. Orang bijak juga pernah berkata, “Segala milikku yang kucintai dan kusayangi akan berubah dan terpisah dariku.” Sungguh ucapan yang sangat sederhana, namun sarat akan makna. Kenyataan dari kalimat itu pun selalu terngiang di dalam benakku. Sanggupkah Aku kehilangan dirinya? Sesosok pribadi yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari milikku.

Seorang Ugly Duckling adalah seorang perfeksionis yang hidup di lingkungan dan keluarga yang kurang lebih perfek. Hidupnya selalu berkecukupan  dan semangatnya untuk meraih masa depan yang lebih baik membuat pribadinya sekuat baja dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Anehnya si pefeksionis yang satu ini mau-maunya memilihku sebagai pendamping hidupnya. Kini kisahku dan dirinya bagaikan kisah dongeng cinderela di dunia nyata. Namun cinderela yang satu ini ternyata penakut ulung. Keadaan hidupnya yang luar biasa itu tidak membuatku meloncat-loncat kegirangan seperti halnya seseorang yang diberikan hadiah yang sempurna di mata dunia. Akan tetapi, mengkondisikan hadirnya ketakutan akan kehilangan dirinya dan bukan atas apa yang dimilikinya.

Kehilangan dirinya adalah suatu hal yang akan paling menyakitkan di dalam hidupku, dan ketakutan itu seakan dipertegas oleh kalimat yang diucapkannya selepas pulang dari rumahku. “Cewekku harus kuat dan pantang menyerah.” Lalu, sekuat dan setegar apakah Aku saat itu? ungkapan tersebut semacam sindirian yang disengaja, namun menjurus pada sasaran. Akan tetapi energy panas di dalam otakku bergegas memberikan semangat kalau Aku bisa dan Aku haru kuat!!!

Aku pun mulai mengadakan investigasi, membedah setiap bagian dari hidupku, dan untuk sesaat seorang Ugly Duckling tidak terlintas di dalam benakku. Aku kembali mengenang masa laluku, menilai hidupku di masa kini, dan memprediksikannya di masa yang akan datang. Sungguh… hasilnya mengecewakan. Jika diibaratkan sebuat nilai, mungkin nilaiku hanyalah angka 6 dan dirinya angka 9. Dengan kata lain, Aku dan dirinya umpama bumi dan langit.

Aku tak pernah melakukan hal yang Aku anggap bodoh itu sebelumnya. Namun itulah yang terjadi, Aku tak hidup dan tak menikmati hidupku saat ini. Aku terkurung dalam masa laluku dan terjebak dalam angan-angan masa depan yang menakutkan, yang kejadiaannya pun belum tentu Aku alami. Seorang Ugly Duckling bagiku luar biasa amat cukup, bahkan lebih. Akan tetapi, cukupkah sesosok manusia biasa, yang memiliki paras biasa yang hidupnya biasa kekurangan dan biasa dilanda penderitaan, bagi seorang Ugly Duckling yang perfeksionis dan serba berkecukupan? Pikirku. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu menjadi bumerang dalam batinku dan seakan tak henti-hentinya berteriak meminta sebuah jawaban. Mungkin satu jawaban saja tidak akan pernah cukup untuk menjawab semua kegelisahan yang ada di dalam hatiku.

Sungguh, kebodohan telah meliputi semua sela-sela pikiranku. Tak pernah terlintas di dalam benakku untuk merasa bersyukur dan menerima keadaanku sendiri, seperti halnya Ugly Duckling menerimaku apa adanya. Aku manusia yang menganggap diriku biasa saja hanya berpikir pantaskah Aku terus mendampinginya dan mampukah Aku memberikan kebahagiaan untuk dirinya? Keminderanku semakin melampaui besarnya cintaku kepadanya, menerobos semua mimpi dan angan yang sempat memberiku janji-janji untuk hidup bahagia. Namun seperti halnya hukum perubahan yang mengatakan, segala sesuatu dapat berubah. Ketakutan yang tiba-tiba mengusik itu pun berubah menjadi sebuah keberanian. Sebuah keberanian yang tumbuh atas dasar cinta dan mengatasnamakan sebuah pertahanan dari orang yang mencintai. Entah keajaiban apa yang mampu merubah pola pikirku dan memberikan kekuatan keyakinan yang luar biasa kepadaku. Keyakinan yang nyatanya membuatku seolah-olah dilahirkan kembali sebagai seorang anak manusia, yang siap menghadapi apa pun dan hal buruk yang tak diinginkan sekali pun. Keyakinan yang mampu menjawab semua kegelisahan dan ketakutan yang selama ini menghantui pikiranku. Ketika itu Aku menjadi seseorang yang berani dan yakin menghadapi apa pun, termasuk perbedaan status ekonomi antara Aku dan dirinya. Tetapi sayang sekali, hukum perubahan tidak hanya berlaku untukku saja. Melainkan diperuntukkan bagi siapa saja dan apa saja, termasuk perasaan Ugly Duckling.

Seiring waktu di saat Aku sibuk mengurusi fenomena masa lalu dan angan-angan masa depanku, perasaan dan sikap Ugly Duckling berubah tanpa sebab yang jelas. Sosok manusia bijak yang agak tertutup dalam mengungkapkan perasaannya itu, membuatku tak mengerti apa yang telah terjadi dengannya. Sehingga pada akhirnya dia berlalu dan pergi meninggalkan kehidupanku seperti yang selama ini Aku takutkan. Satu kalimat sempat diucapkannya dan kadang kala masih terngiang di telingaku, “Maafkan Aku, Aku plinplan!” Bukan kata-kata yang salah, bukan keadaan yang salah dan bukan pribadi yang disalahkan, tetapi orang bijak pernah berucap, “Jika karma sudah berperan, dewa pun tidak dapat berbuat apa-apa.” Apa yang aku pikirkan adalah bagian dari apa yang akan aku lakukan, namun kini Aku yakin semua bisa berubah dan dapat diubah.

Menelaah akhir yang telah terjadi, ternyata ketakutan yang selama ini membebaniku sia-sia dan tidak berarti. Aku takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi dan menyia-nyiakan hidup yang paling berharga yaitu saat ini. Namun modal keberanianku saat ini yang kuperoleh dari hasil pengalamanku membuatku mampu menantang masa depan.

(Cerpen ini ditulis sekitar tahun 2005, yaitu awal saya mulai lagi belajar mencoba kembali menulis cerpen)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s