Penjual Bambu dan Motor Butut


 

By. Selfy Parkit, Ide cerita Linda

Hujan yang bergemericik hampir saja membasahi seluruh tubuh kami. Tapi Linda tak peduli, dikebutnya sepeda motor bebek yang sudah butut tersebut. Motor miliknya ini bukan saja berpenampilan kumal, tapi juga sudah tidak layak pakai. Coba bayangkan, bodi si roda dua itu sudah banyak yang retak-retak, belum lagi mesinnya kadang-kadang mogok di tengah jalan, ditambah lagi bunyinya sudah hampir memengkakkan telinga. Namun walaupun begitu, herannya sepeda motor ini tetap saja setia menemani kami berdua dari pagi bahkan sampai larut malam, dan berkat jasanyalah kami berdua bisa sampai di tempat kerja dengan selamat setiap harinya. Si pemiliknya, Linda teman sekantor sekaligus ojek pribadiku memang sangat sayang dengan sepeda motor bututnya ini, maklum saja motor itu adalah hasil  jerih payahnya selama bekerja. Tetapi karena kemiskinan mengilasnya hingga babak belur, sampai sekarang Linda masih belum sempat membawa sepeda motornya itu ke bengkel. Sebenarnya aku sudah berkali-kali mencoba menawarkan bantuan dana kepada Linda untuk segera membawa si bebek tua itu ke bengkel. Tetapi perempuan kurus keras kepala berpenampilan sederhana itu bersikukuh ingin menggunakan uang yang ada di celengannya saja. ‘Walau setiap hari rajin menabung, tapi mau sampai kapan!’, seruku kadang gemas melihat kesabaran dan ketekunannya. Maklum saja, sebagai kepala keluarga di rumah, Linda memang sudah terlalu mandiri dalam berbagai hal. Kematian kedua orang tuanya tidak hanya membentuknya menjadi tegar, tetapi juga membuat ia mampu membiayai hidup kedua orang adiknya yang masih kecil-kecil.

Kibasan angin di atas motor tak membuat pakaian basah kami seketika menjadi kering, namun syukurnya gerimis perlahan mulai mereda. Akhirnya sampailah kami di persimpangan lampu merah. Seperti biasanya Linda pasti akan menolehkan pandangannya ke kiri jalan. “Nda, konsen.. Nda Konsen..!”, seruku beberapa hari ini, “Ngeliat apaan sih? bentar lagi kuning tuh lampunya!” “Ya, sabar bu…” sahutnya sambil meneruskan, “Coba deh you liat di pinggir jalan itu ada apa?” “Apaan? Cuma ada kakek tua penjual bambu aja tuh!”, sahutku enteng. “Huu… you memang ga bisa ngeliat orang dengan perasaan!”, balas Linda sambil melajukan sepeda motornya karena lampu hijau sudah menyala. “Ya iyalah, akukan ngeliat pake mata, kalo bukan begitu buat apa fungsinya mata!” seruku membalas cibirannya.

Rupanya si kakek tua itu yang selama ini menarik perhatiannya. Memang keadaan si kakek sangat memprihatinkan, tubuhnya yang kurus dan berwarna kelam saja sudah membuat mata nanar, apalagi ditambah dengan pekerjaannya untuk bertahan hidup. Bayangkan, berapa banyak sih orang di daerah ini yang membutuhkan bambu? Apalagi zaman sekarang rumah-rumah sudah terbuat dari besi beton dan tembok-tembok batu bata. Jikalau pun ada orang yang membeli, tentunya tidak setiap hari ia mendapatkan uang. Belum lagi kalau ada anak atau cucu-cucunya yang tinggal di dalam gubuk tua itu, mau diberi makan apa mereka? pikirku dalam perjalanan hingga sampai di kantor.

Keesokan harinya di persimpangan jalan lampu merah, lagi-lagi Linda menolehkan pandangannya ke pinggir jalan. Kali ini aku mulai memperhatikan wajahnya yang resah, “Mau tolong si kakek itu?” tanyaku sambil kemudian melanjutkan, “Kita belok ke sana terus kasih uang aja Nda!” “Dari dulu I juga berpikir kaya gitu, tapi si kakek itu pasti akan merasa tidak enak hati, dia jugakan punya harga diri.” Sahut Linda menyambut saranku. “Oh iya juga ya, kalau gitu borong aja semua bambunya!” kataku asal bicara. Tapi tak disangka ternyata Linda menganggap serius ide gilaku itu, “Wah ide bagus! Pulang kantor kita akan tanya berapa harga bambunya” sahutnya sambil bergegas menjalankan motornya. “Wuish… kenapa pula nih motor!” seru Linda sedikit panik, sambil mencoba menyalakan mesin. Lalu dengan pelan dia berkata, “Wah sepertinya motor I mogok bu!”

Penyakit si motor butut mulai berulah lagi, dengan amat sangat terpaksa kami pun kemudian mendorong si roda dua itu ke pinggir jalan. Sambil menunggu Linda mengotak-ngatik mesin di motornya, aku bergegas menelepon kantor seraya mengabarkan hari ketidakberuntungan kami. Mungkin ini yang disebut sudah karma, berkat kejadian inilah akhirnya Aku dan Linda sempat bertanya-tanya dan melihat keadaan si kakek tua itu dari dekat. Ternyata benar saja si kakek itu tinggal dengan dua orang cucunya yang masih kecil. Keluarganya semua telah meninggal saat peristiwa gempa beberapa bulan yang lalu. Hidupnya hanya mengandalkan dari hasil komisi penjualan bambu dan jasa mengamen cucu-cucunya saja. Bambu itu sendiri didapatkan dari titipan seorang supplier bambu yang dengan baik hati pula membuatkannya gubuk untuk mereka tinggal.

Linda dan aku membicarakan hal ini dalam perjalanan, keinginan Linda untuk menolong mereka besar sekali, sebesar rasa kasihannya terhadap kondisi si kakek tua tersebut. Tetapi besarnya keinginan kita menolong si kakek, sama besarnya pula uang yang harus kita kumpulkan untuk membeli bambu-bambu tersebut. Masalahnya mau sampai kapan? Menunggu sampai kami mengumpulkan uang selama berbulan-bulan? Aku dan Linda memutar otak dan mencari jalan keluar. Tiba-tiba tercetuslah ide yang jarang sekali muncul di kepalaku, “Bagaimana kalau kita mengumpulkan dana dari teman-teman kita untuk memborong semua bambu-bambu tersebut!”. Ide mentah itu ternyata disambut Linda dengan girangnya. Dikerahkannyalah seluruh tenaga dan perhatiannya untuk memintai dana dari teman-teman kami. Sehari… dua hari… sampai seminggu, ditodonglah sudah olehnya semua teman kampusku, tapi memang apa mau dikata, dana yang terkumpul masih saja belum cukup untuk memborong semua bambu tersebut. “Kurang berapa Nda? Sudahlah beli saja sebagian bambunya!” kataku sambil melihatinya menghitung uang. “Sekitar lima ratus ribu bu. Tidak bisa, kita sudah bertekad! I masih punya celengan, mungkin I akan pakai uang itu!”, sahutnya mantap. “Yakin kau! Bukannya uang celengan itu kau bilang akan digunakan untuk membawa motor kau ke bengkel?” Tanyaku sambil menatap matanya. “Tenang saja bu, I punya ide!” serunya yakin.

Keesokan harinya, kami datang ke tempat si penjual bambu. Linda dan sepeda motornya memimpin perjalanan di depan mobil truk yang kami sewa untuk mengangkut bambu-bambu tersebut. Akhirnya sampailah kami di tempat si kakek yang sedang duduk di bawah gubuknya yang sederhana itu. Wajahnya mendadak cerah ketika kami berkata akan memborong semua bambu-bambunya. Diangkatlah semua barang jualannya itu ke atas truk, dan pergilah kami menuju rumah si pembeli bambu yang dicari Linda beberapa hari lalu. Rasanya lancarlah sudah semua rencana yang telah kami susun dari jauh-jauh hari, tapi apa mau dikata hidup memang tidak pasti. Ketika kami sampai di tempat yang dituju, si calon pembeli tiba-tiba saja tidak jadi membeli bambu kami, karena pagi itu rumahnya terbakar api, dan naasnya lagi seketika motor Linda yang diparkir di pinggir jalan ditabrak lari oleh mobil truk kontainer yang tak bertanggung jawab. Lengkaplah sudah penderitaan kami saat itu, tepatnya penderitaan Linda. Sekarang Linda bukan saja kehilangan uang untuk memperbaiki motornya di bengkel, tetapi juga butuh uang lebih banyak untuk membuat motor bututnya itu berjalan seperti sediakala. Awalnya Linda berpikir akan memberikan sisa uang penjualan bambu kepada si kakek tua untuk membantu biaya menghidupi cucu-cucunya dan modal untuk membuka usaha. Tapi apa mau dikata, kini yang tersisa hanyalah bambu mentah yang ditaruh di pinggir rumahnya, menunggu pembeli untuk datang membeli. Saking isengnya meratapi kenaasan perbuatan baik yang kami lakukan, aku kadang tanpa merasa bersalah senang mengejeki Linda dengan memanggilnya ‘Linda si penjual bambu’. Linda memang tak pernah mau marah, tapi juga tak mau kalah oleh cibiranku. Untuk pertama kalinya ia pun melancarkan aksi balas menyindirku dengan sebutan ‘Selfy si ide cermelang’ Kemudian Ting!… seketika saja ide di kepalaku muncul bersinar.

Sebulan telah berlalu, habis gelap terbitlah terang. Berakit rakit ke hulu berenang renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Hidup ini ternyata tak hanya sekedar pribahasa belaka, tetapi memang nyata adanya. Akhirnya berkat usaha dan keuletan, kami pun mampu memberikan dana untuk si kakek dan kedua cucunya. Bukan hanya itu saja, kini si kakek dan cucunya sudah punya pekerjaan tetap yang lebih baik yaitu sebagai penjual dan pengerajin bambu. Kemudian, yang lebih melegakan dan membahagiakan adalah motor Linda akhirnya dapat diperbaiki berkat keuntungan yang kami peroleh dari hasil penjualan kerajinan bambu tersebut. Tentunya aku pun turut senang karena tukang ojek pribadiku ini akhirnya bisa kembali mengantarkanku pulang pergi kantor. Semua berkat bambu-bambu lurus yang berubah bentuk dan diolah sedemikian rupa menjadi sesuatu yang indah. Seindah hati Linda ‘si penjual bambu’ yang kurus, keras kepala dan berpenampilan sederhana.

NB : Cerpen ini pernah dilombakan, namun sayang tidak lolos seleksi. hahaha…

Semoga menghibur dan bermanfaat ^_^ Gan en

One thought on “Penjual Bambu dan Motor Butut

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s