Guru Kecil


Kedatangannya dari jauh memang sudah terlihat, walau agak samar tapi Aku yakin itu dia. Wajahnya yang semu kemerahan, dengan rambut ikat kepang ke atas dan ransel merah muda di pundaknya membuat ia terlihat semakin kecil. Gerakannya yang jingkrak-jingkrak dan gemerincing bunyi kerincingan di kaki kecilnya, menandakan kalau ia memang masih hijau, masih belum tercemar polusi duniawi. Langkahnya tak beraturan, ringan namun terlihat mantap. Tak ada beban di pikirannya dan hatinya, dunia seperti surga bermain yang indah.

Semakin dekat semakin melebarlah tawanya, mulailah dipamerkannya gigi putihnya itu sambil mengayunkan lengan kecil beserta jemari-jemarinya yang lentik. Seketika bibirnya yang mungil menyuarakan kata yang tak asing kudengar, “Lao Shi.. Lao Shi!!!” dari kejauhan suara kecil itu terdengar semerdu bunyi harpa, bahkan lebih merdu dari biasanya.

Berjingkrak-jingkraknya semakin menjadi, langkah-langkah kecil itu mulai cepat, daun-daun di sekeliling mulai berhamburan. Tap.. tap.. tap… tak terasa segumpal daging kecil itu sudah medarat tepat di dekapanku. “Lao Shi, Good Moning” sahut si pemilik bibir merah delima. “Bilang, Zao An!” “Zao An…” tirunya sambil terkekeh-kekeh.

Entah sampai kapan kekehan ini akan ku dengar, sampai si kecil mulai mengertikah? Aku berharap tidak, Gadis harus menjadi orang yang tegar, orang yang kokoh, bahkah lebih kokoh dari gunung. Di umurnya yang masih 3 tahun masih belum banyak yang ia mengerti. Tapi Gadis mengerti cinta. Hanya karena cintalah Gadis mampu bertahan dalam kerasnya dunia. Dunia yang telah merenggut kedua orangtuanya dari kehidupannya. Tapi toh Gadis masih bisa tersenyum,  masih bisa bermain dengan kakak pengasuh panti asuhan, masih bisa terkekeh-kekeh.

“Beberapa hari ini di panti dia agak rewel semenjak dikasih tontonan Barnie, tapi kalau sudah sampai di sekolah ya begitu tuh, jingkrak-jingkrakan tak karu-karuan” sahut kakak pengasuh yang mengantarnya ke sekolah. Aku hanya bisa tersenyum lebar. Untungnya warisan peninggalan orangtua Gadis mampu membiayainya sekolah. Tapi walau bagaimana pun mampukah harta duniawi itu mengobati luka hati??? Kurasa tidak. Apalagi karena harta pulalah Gadis harus menjadi yatim piatu, korban dari perampok yang tak mampu bertahan dari kerasnya kehidupan. Aku menghela nafas panjang, membanyangkannya saja sudah membuat sesak.

Gadis kecil itu berjalan mendahuluiku, lenggak-lenggok parasnya dari belakang sudah banyak menghiburku. Memperhatikannya membuatku tak mampu menahan tawa. Meledaklah tawaku di ruang kelas yang masih kosong. “Lao Shi kok ketawa?” tanyanya sedikit curiga. Melihat mimik wajahnya yang lucu membuatku berusaha keras menghentikan tawaku. Sambil menarik nafas dalam Aku berusaha menenangkan diri. “Gadis tahu, kalau hari ini adalah hari ulang tahun Gadis?” “Ulang tahun ya! Horree.. asik…!!!” serunya gembira sambil bertepuk tangan. “Hmm.. sebagai hadiahnya, Gadis boleh minta apa saja sama Lao Shi… Gadis boleh minta kue ulang tahun berbentuk Princess, atau boneka Barnie seperti yang di TV kemarin” tawarku mengodanya. Gadis terdiam sejenak sambil jemarinya tak henti melinting-linting rambut depannya yang masih tersisa. “Hmm… apa ya.. tapi Gadis tidak mau kue ulang tahun berbentuk Princess, atau boneka Barnie.” katanya dengan tampang serius. “Loh, kalau tidak mau kue dan bonekanya Gadis mo apa dong???” sahutku menawarkan kembali kepadanya.  “Bener???” tanyanya lugu. “Iya….” Jawabku memastikannya. Dia terdiam sejenak, kemudian mulutnya yang kecil itu mulai mengucapkan kalimat-kalimat panjangnya. “Kata Barnie, anak-anak punya mama papa, Gadiskan masih anak-anak ya! Gadis mau mama papa bisa?” seketika hatiku terenyuh, kupeluk Gadis erat-erat, air mataku meleleh tak terasa. “Loh kok Lao Shi nangis, ih Lao Shi cengeng, ya ga ada ya mama papanya, kalau ga ada Gadis mau Lao Shi aja deh!” sahutnya enteng sambil terkekeh-kekeh. Mataku basah, kupeluk Gadis dua kali, bibirku mulai tersenyum menghiburnya, namun bukan Aku yang sesungguhnya menghibur Gadis, Gadislah yang sudah menghiburku. Guru kecil yang mengajarkanku kehidupan.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s