Karakter dan Pembentukan Karakter


Oleh Shravasti Dhammika

Karakter (Sabhava) adalah kualitas mental dan sifat-sifat yang membuat seseorang berbeda dari yang lainnya. Kata dalam bahasa Inggris (Character) yang berasal dari bahasa Yunani yaitu tergores atau mencap. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang adalah orang yang baik atau orang yang tidak menyenangkan maksud kita adalah mereka memiliki keunggulan sifat positif dan negatif yang lebih mudah diperhatikan atau lebih sering ditujukan/dimanifestasikan. Ketika kita dilahirkan kembali kita membawa sifat-sifat yang sudah terbentuk pada kehidupan sebelumnya (mungkin beberapa kehidupan) seperti halnya kecenderungan dasar bawaan lahir. Dalam beberapa bulan sifat-sifat ini mulai menjadi terlihat jelas dan dapat diperkuat atau berkurang sesuai dengan keadaan lingkungan, pengalaman awal masa kanak-kanak yang juga membentuk sifat-sifat/karakter baru. Demikian pula, keadaan dapat membangkitkan kecenderungan yang mendasarinya. Pada saat masa awal remaja kita, karakter kita sepenuhnya terbentuk meskipun masih dapat ditempa. Beberapa sifat akan diperkuat dan barangkali dapat berkembang menjadi bias/prasangka (nata) menurut kebiasaan mental yang kita bentuk. Buddha berkata, ‘Apa pun yang dipikirkan seseorang dan sering direnungkannya, pikiran mereka mendapatkan pembelajaran dengan cara itu’ (M.I,115). Menggunakan sebuah gambaran yang mirip dengan Yunani, Buddha juga berkomentar bahwa beberapa sifat seperti sebuah ukiran di batu karang, yang lain bagaikan sebuah goresan di atas tanah dan yang lainnya bagaikan menulis di atas air (A.I,283), yang berarti bahwa beberapa sifat sukar untuk berubah dan yang lainya tak sesulit itu. jika sifat-sifat itu tidak berubah baik melalui upaya kesadaran yang disengaja atau dengan sebuah pengalaman yang sangat dramatis yang mungkin kita alami, karakter kita akan tetap menetap secara relatif, menjadi lebih kaku dan berurat akar seiring berjalannya waktu.

Karakter sangatlah penting karena merupakan faktor utama di dalam perjalanan hidup kita. Ini memengaruhi bagaimana kita melihat diri kita, bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan oleh sebab itu bagaimana mereka berhubungan dengan kita, cara kita berurusan dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan dan bagaimana kita memandang dunia. Bagian terpenting dalam menjadi seorang Buddhis adalah pembentukan karakter atau mengembangkan apa yang Buddha sebut ‘sifat dasar yang indah’ (Kalyana Dhamma, A.I,248; II, 109). Secara umum, ada tiga langkah dalam proses ini; (1) Melihat perlunya transformasi/perubahan karakter, (2) memiliki model atau karakter ideal untuk diterapkan (3) memiliki dan menerapkan cara-cara untuk memodifikasi karakter itu

menerima efisien berwawasan luas produktif
petualang energik intuitif profesional
ambisius Giat bijaksana tepat waktu
Tegas antusias logis pendiam
hati-hati fokus setia rasional
Ceria ramah dewasa realistis
percaya diri lembut teliti Menentramkan
berhati-hati ikhlas berpikiran terbuka relasional
penuh perhatian baik hati optimis dapat diandalkan
kooperatif suka berteman terorganisir banyak akal
Sopan bahagia Ramah tamah responsif
Kreatif pekerja keras sabar mengendalikan diri
Tegas Suka membantu Cerdik, lekas mengerti egois
diandalkan Jujur gigih sensitif
Setia Lucu menarik Tulus hati
Disiplin imajinatif tenang Cermat, teliti
Tekun mandiri sopan jujur

Beberapa orang, karena keadaan yang kebetulan di dalam kehidupan terdahulu maupun yang sekarang, sudah memiliki karakter yang baik. Kebanyakan tidak. Kebanyakan orang tidak pernah melihat keinginan atau bahkan keuntungan dari merubah diri mereka sendiri. Beberapa hal yang dapat menimbulkan keinginan untuk transformasi/perubahan karakter termasuk krisis pribadi yang mereka sendiri telah bertanggung jawab untuk itu, adalah bersentuhan dekat dengan kematian atau terinspirasi oleh orang yang sangat mengagumkan. Setelah melihat kemungkinan dan kebutuhan untuk perubahan, seseorang kemudian harus memiliki teladan untuk dicontoh. Buddha tentu saja adalah teladan yang sempurna; kesabaran yang tanpa batas, kebaikan yang tiada habisnya, benar-benar jujur dan sangat bijaksana. Untuk ‘mengambil perlindungan’ di dalam Buddha adalah menerima dia sebagai seseorang teladan yang memandu. Setelah memutuskan bagaimana seseorang ingin menjadi, dia kemudian membutuhkan suatu program perubahan/transformasi praktis. Jalan Mulia Befaktor Delapan adalah program seperti itu, menawarkan pedoman/petunjuk pada setiap aspek kehidupan; intelektual, yang pantas, layak/etis dan psikologis.

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Artikel asli dapat dibaca di http://sdhammika.blogspot.com/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s