Surat Cinta Untuk Seorang Teman



“Aku percaya padamu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu dulu”

Beberapa hari lalu dia meneleponku, suaranya parau dan terdengar letih. Terasa kesedihan di setiap alunan kata-katanya. Dia tidak seperti biasanya, tidak lagi menghina, mencaci-maki, ataupun mengucapkan kata-kata kasar seperti yang dia sering lakukan ketika meneleponku. Bukan berarti dia membenciku, hanya saja begitulah gayanya mengekspresikan perasaannya. Kasar dan kadang tak berprikemanusiaan… Ya, menyakitkan.. Tapi selalu menghibur dan membuat kami berdua tertawa. Hubungan kami berdua memang sudah tidak seperti dulu lagi, sudah jarang berbicara lewat telepon, apalagi untuk bertatap muka. Jujur, bukan hanya kesibukanku saja yang membuatku tak pergi ke rumahnya, tapi karena memang adakalanya aku enggan untuk menemuinya. Terkadang ada saja prilaku yang membuatnya tampak menyebalkan jika kita saling bertemu dan berbicara. Ya.. begitulah Aku dan dia kalau sudah berhubungan, tak pernah terlihat akur dan senang sekali saling mengejek satu sama lain. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi dasar dari rasa sayang Aku dan Dia. Percakapan kami lewat telepon beberapa hari lalu mengingatkanku kembali akan semua kenangan-kenangan yang sudah lama berlalu. Cerita-cerita yang pernah dia dongengkan dulu, rasanya  sekarang ini bukan lagi menjadi senjata andalannya, melainkan mungkin telah menjadi batu sandungan baginya. Bukan suatu kebanggaan, apalagi sesuatu yang bisa dijadikan bahan melucu untuk merayu semua wanita yang mudah dirayu agar masuk ke dalam pelukannya. Saat ini cerita-cerita super heronya itu malah menjadi beban dalam hidupnya… Bahkan menjadi himpitan untuk terus menjalani hidupnya sekarang. Dia boleh menjadi jagoan di masa lalu, menjadi yang paling beken maupun yang disegani di kalangannya. Namun saat ini teman, waktu telah berubah. Kau bukan lagi jagoan, bukan lagi orang beken ataupun orang yang disegani di kalanganmu. Kau sekarang bukan lagi seorang pemberani yang nekad mengorbankan nyawamu di tengah-tengah pertarungan, demi sebuah persahabatan hitammu. Kau sekarang hanyalah seorang penakut yang takut karena lingkungan tak lagi mempercayaiMU.

TAPI, jangan khawatir teman, Aku selalu mempercayaimu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu… Aku percaya kau sudah berubah… Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu. Biarlah mereka bicara apa saja tentang dirimu, jangan kau pedulikan… Mereka bukanlah penentu kebahagiaanmu… Mereka tidak berhak atas kebahagiaanmu… Raihlah kebahagiaanmu Teman. Kalau saja hari ini kau bersedih karena mereka tak mempercayaimu… Tak percaya bahwa kau telah berubah. Masih ada Aku, temanmu yang mempercayaimu. Walaupun Aku satu dari seribu, namun Aku tetap setia mendukungmu, memberikanmu semangat, kasih sayang dan memberimu pundakku untuk kau tangisi. Janganlah menyerah teman.. Mereka hanya ingin melampiaskan kemarahan mereka.. Mereka hanya merasa takut, mereka hanya merasa khawatir dan tidak suka. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menghalangimu untuk dapat berubah dan menjadi penentu kebahagiaanmu sendiri.

“Aku sudah berusaha bersabar dan bertahan, tapi mereka tetap saja tak percaya”, begitu katamu.. Ku tahu kau rentan pecah, karna kau baru memulai. Kau menjadi tak sabar dan kini kehilangan kepercayaan diri. Kau menjadi terkucilkan, dan merasa tak diterima. Tapi teman, kesabaran tak ada batasnya, yang harus kau lakukan hanyalah menunggu dan membuktikan bahwa kau benar-benar berubah, bersungguh-sungguh menjadi pribadi yang baru. Jika memang lingkunganmu tak mendukungmu untuk menjadi lebih baik, carilah lingkungan baru yang mampu mendukung dan mengajarkanmu untuk berubah. Apa pun yang terjadi teman, Aku tetap mendukung dan mempercayaimu.

Teman waktu yang lalu sudah berlalu… Waktu itu hanya bisa dikenang, janganlah dijadikan penyesalan. Seperti hal nya Aku yang tak pernah menyesali hubunganku denganmu… Aku berterima kasih padamu teman, karena dengan kaulah banyak hal yang Aku pelajari, banyak hal yang harus Aku syukuri. Seperti itulah harusnya kau lakukan. Jangan selalu menyesali apa yang telah kau perbuat terhadapku dan yang lain. Syukurilah bahwa kita masih berteman dan kau masih dapat memperbaikinya. Jangan berhenti berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membawamu pada kebahagiaan.

With Care,

Selfy Parkit

Tangerang, 15th July 2009

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s