Keterlambatan yang Menyedihkan


Oleh Selfy Parkit

Malam hari 25 Mei 2008, Ibu dari teman saya kena stroke, segera Saya bergegas ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar tersebut. Sesampainya di sana Saya merasa kesal ketika mengetahui lambatnya penanganan dokter terhadap Ibu teman saya ini. Saat itu dokter lebih mementingkan prosedur dibandingkan nyawa si pasien. Yang lebih mengelikan lagi ‘Kalau ada uang maka kami akan bertindak’ kasarnya katakanlah seperti

itu. Salah satu seorang perawat laki-laki berkata “Semakin cepat keluarganya, maka semakin cepat kami akan bertindak”, maksudnya cepat uang administrasinya pak!!!

Ibu teman saya ini sudah sampai dirumah sakit + sekitar jam 9 malam, dan ketika sampai si pasien hanya diberikan oksigen dan obat melalui infus, itu pun harus menunggu keluarga membayar atas obat-obatan tersebut. Pasien baru ditangani secara detailnya pada jam + 11.30 malam dan untuk menunggu rontgennya saja butuh waktu yang begitu lama. Salah seorang dokter sempat marah-marah ketika teman yang mengantar saya ke rumah sakit melakukan protes kepadanya. Teman saya berkata kepada dokter itu untuk cepat dalam menangani pasien tersebut, ‘Masa dari tadi tidak ada tindakan’ begitu kata teman saya. Dokter itu sempat emosi karena merasa si pasien sudah ditanganinya. Ditangani seperti apa? Pasien hanya diberikan obat, diinfus lalu diberikan oksigen membantu pernafasan, sedangkan untuk scan kepala itu sendiri belum dilakukan karena menunggu gono-gini, alias uang pembayaran dan prosedur yang ngejelimet. Belum lagi berusaha dokter itu sudah bersikap pesimis sekali, bukannya membesarkan hati keluarga, malah selalu menanamkan di pikiran mereka, bahwa si pasien sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup.

Akhirnya setelah bolak-balik ke bagian administrasi ini dan itu, lengkap dengan surat-surat yang ditanda-tangani di sini dan di situ dan ada biaya yang harus dibayar kontan saat itu juga, akhirnya setelah sekian lama menunggu si ibu yang berumur kurang lebih 50 tahun ini pun baru segera dibawa ke ruangan rontgen. Yang melucukan lagi, di ruang rontgen si pasien sempat tersedak karena kepalanya harus diangkat untuk menempatkan alat rontgen dibelakang punggungnya, alias rontgen dada. Saya mengira si dokter mau rontgen kepalanya dengan segera, tahu-tahu malah dadanya yang terlebih dahulu dirontgen. Lucunya yang melakukan pengangkatan tubuh si pasien malah keluarganya sendiri, perawat yang ada saat itu hanya perawat laki-laki yang siap untuk me-rontgen. Oleh karena itulah si pasien tersedak dan sempat terganggu pernafasannya, dan akhirnya untuk scan kepala pun dibatalkan. Yang lucu di sini, ketika pasien tersedak dan terganggu pernafasannya, si perawat pergi memanggil sang dokter dan si petugas rontgen entah di mana keberadaannya, jadi keluarga pasienlah yang mengurus si pasien hingga akhirnya nafasnya kembali seperti semula. Sungguh menyedihkan, si dokter baru datang setelah itu. Si pasien pun akhirnya dibawa ke ruang rawat, itu pun setelah semua biaya administrasi diselesaikan. Semua uang sudah hampir habis ditangan, entah kemana lagi temanku ini mencarinya untuk membayar perawatan esok harinya. Perasaan sedih dan gelisah pun menyelimuti wajahnya, namun bukan uang yang dipikirkannya, melainkan keselamatan dari nyawa ibunya. Memikirkannya saja sudah membuatku merasakan kesusahannya. Ditambah lagi saat mengikutinya mengurusi prosedur Rumah Sakit yang membingungkan dan menyulitkan. Namun apa mau dikata setelah melewati malam yang menegangkan, paginya sekitar pukul 6.30 WIB Ibu dari temanku ini meninggal dunia. Temanku yang bijaksana ini begitu tabah, dan menerima atas kematian ibunya. Sepatah kata pun tidak pernah terucapkan olehnya untuk menyalahkan pihak Rumah Sakit ataupun dokter yang terlambat menangani perawatan ibunya. Tetapi, andai saja penanganan sang dokter bisa lebih cepat dan pihak Rumah Sakit bisa lebih tulus dan mengerti, maka kemungkinan peluang selamat dari si Ibu pun akan semakin besar. Kita tidak bisa pungkiri bahwa keadaan rata-rata rumah sakit di Indonesia memang lebih mendahulukan prosedur dan biaya administrasi ketimbang keselamatan nyawa dari si pasien. Ini adalah kenyataan yang banyak dialami oleh setiap orang yang pernah dirawat di rumah sakit, khususnya bagi mereka yang tidak mampu. Keadaan ini memang sungguh sangat memprihatikan, entah sudah berapa banyak masyarakat yang menjadi korban seperti kejadian serupa. Untuk sebagian masyarakat kalangan atas, mungkin hal tersebut bukanlah sebuah masalah yang besar, mereka masuk rumah sakit lalu melunasi semua biaya administrasi dan sang dokter berserta perawatnya akan segera membantunya. Namun, bagi mereka yang memang mempunyai kesulitan dalam hal finansial tentunya hal ini amat dirasakan dampaknya, penanganan yang lambat, prosedur yang menyulitan dan tentunya penolakan perawatan yang mungkin terjadi.

Dimana hatiMu wahai para dokter-dokter….?

Apakah kalian selalu pasrah kepada nasib…..?

Apakah uang lebih penting dari nyawa seseorang…..?

Rindu rasanya hati kami oleh sosok seorang dokter yang ada di dongeng-dongeng yang

selalu siap sedia menolong pasiennya bagaimana pun keadaan pasien tersebut……….?

Berbelas kasihlah wahai Pemilik Rumah Sakit – Rumah Sakit ……..?

Nyawa lebih penting dari apapun….?

Bisakah kau gantikan kehidupan seseorang hanya karena keterlambatan pembayaran

uang administrasi saja?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s