Apa yang Menjadikan seorang Bodhisattwa?


By Shravasti Dhammika,

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Artikel saya tentang Dr. Ambedkar (16 Juni pada postingan blog) telah mengundang beberapa komentar yang menarik. Teck menunjukan bahwa sebagian “bodhisattwa” yang telah saya sebutkan itu (Gandhi dan Mother Teresa) memiliki kekurangan-kekurangan, dan saya sudah menjawab komentar ini. Richard telah bertanya, ‘Orang-orang kristen menganggap Bapa Damian sebagai seorang suci, Apakah Anda menganggap dia sebagai ‘bodhisattwa?’ Dua pertanyaan tersirat di sini, (1) Apa itu seorang bodhisattwa? dan (2) Bisakah seorang non-Buddhis, katakanlah Tao, Islam, Kristen, Yahudi atau Sikh, memenuhi syarat untuk menjadi seorang bodhisattwa? Saya akan memberikan tanggapan saya  mengenai masalah ini. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang berkomitmen penuh untuk mencapai pencerahan, sebut saja bakal Buddha jika Anda mau. Saya menafsirkan ini maksudnya seseorang yang secara mutlak melihat dengan jelas kebenaran, bagaimanapun mereka memahaminya. Seorang Hindu akan melihat yang mutlak sebagai Visnu atau Siva (baca:Wisnu atau Siwa), Kristen akan melihatnya sebagai Allah/Tuhan, Tao sebagai Yang Agung Tao dan Buddhis sebagai Nirwana. Dengan ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Visnu, Allah/Tuhan, Tao dan Nirwana adalah satu hal yang sama. Mereka berbeda. Tetapi pada tahap awal perkembangan seorang bodhisattwa, mereka mungkin melihat dengan baik kebenaran mutlak dalam hal kondisi  dan pemikiran awal pemahaman mereka. Hal ini secara bertahap akan memberikan jalan kepada suatu pemahaman yang lebih realistis ketika mereka menghampiri kebenaran mutlak itu.

Hal kedua yang menjadikan seorang bodhisattwa adalah semangat mereka terhadap kebenaran mutlak (namun mereka mungkin melihatnya sekarang) menginspirasi mereka untuk mempraktikan satu atau beberapa dari Penyempurnaan (parami) ke tingkat yang sangat tinggi. Penyempurnaan kemurahan hati (dana), moralitas/kebajikan (sila), pengikisan nafsu indria (nekkhamma), kebijaksanaan (panna baca =panya), daya upaya (viriya = wiriya), kesabaran (khanti), integritas atau kejujuran (sacca), ketetapan hati/tekad (adhitthana), Cinta kasih (metta), dan ketenangan hati/keseimbangan batin (upekkha). Oke! Itulah apa yang disebut sebagai seorang bodhsattwa. Sekarang bisakah seorang non-Buddhis menjadi seorang bodhisattwa? Saya pikir mereka bisa. Betapapun, Siddhattha Gotama adalah seorang bodhisattwa dalam kehidupan sebelumnya, dan ia adalah seorang non-Buddhis pada waktu itu. Dia sudah seharusnya! Kalau tidak begitu,tak ada Buddhisme! Menurut saya sebagian besar agama-agama utama dunia mengajarkan semua Paramita (kecuali mungkin kebijaksanaan) meskipun mereka tidak menyebutnya sebagai paramita. Sejarah juga menunjukkan bahwa sebagian besar agama-agama ini telah menghasilkan individu yang luar biasa dari waktu ke waktu. Saya telah sebutkan Gandhi, Mother Teresa, dan Maximillian Kolbe tetapi saya dapat memikirkan yang lainnya. Jadi, pertanyaan Richard tadi adalah, ‘Apakah saya dapat mempertimbangkan Bapa Damian untuk menjadi seorang bodhisattwa?, dan jawabannya adalah ‘ya, Saya dapat menganggapnya’.

Bapa Damian adalah seorang pendeta Katolik, tinggal di Hawai dan bagaimanapun juga ia adalah seseorang laki-laki yang agak kasar, dan terutama sekali tidak gemar mencuci. Pada masa itu ada ketakutan terhadap penyakit kusta/lepra dan jika seseorang diketemukan telah terjangkit, mereka dikurung secara paksa di pulau Molokai yang terpencil/terisolasi dan pada dasarnya ditinggalkan untuk menjaga diri mereka sendiri. Kumpulan penderita kusta adalah suatu bayangan neraka – yang kuat menguasai yang lemah, sedikit makanan, tempat tinggal yang tidak mencukupi dan setiap orang perlahan-lahan membusuk karena kekurangan perhatian medis.

Menyadari bahwa sesuatu perlu dilakukan, pada tahun 1873 Uskup Hawai meminta seorang pendeta secara sukarela untuk melayani orang-orang kusta—mengetahui bahwa hal itu sama saja dengan hukuman mati. Anehnya ada empat orang relawan, di antaranya Damian yang dipilih karena antusiasnya yang nyata. Dia menghabiskan sisa hidupnya dengan para penderita kusta, membuat makanan, membangun sebuah gereja dan rumah-rumah, memberikan mereka perawatan medis, konseling dan hiburan. Tak pelik dirinya sendiri pun terjangkit penyakit kusta dan meninggal karenanya di tahun 1889. Ada sedikit keraguan bahwa inspirasi Damian adalah cerita Yesus yang menyembukan penderita kusta. Sekarang kelihatannya bagi saya apakah keajaiban seperti itu benar-benar terjadi adalah kurang pantas. Intinya adalah bahwa cerita-cerita itu menginsprirasi di dalam dirinya, sebuah perngorbanan diri yang didasari oleh kasih sayang dan penolakan yang sedikit dari kita bisa kumpulkan. Bahkan, kita berdiri dalam kekaguman pada tingkah lakunya, dan fakta bahwa ia agak kasar tidak seharusnya mengurangi rasa kagum kita. Ia siap memberikan hidupnya untuk orang lain, terinspirasi oleh pandangan benarnya. Jadi bagi saya, hal itulah yang membuat Bapa Damian seorang Bodhisattwa. Di dalam tradisi Buddhis ikonografi (ilmu arca) Bodhisattwa digambarkan sebagai kaum muda yang cantik/tampan dan dihiasi dengan permata. Bapa Damian tampak biasa saja, seorang manusia, tidak spesial, nyata. Sutta Mahayana penuh dengan cerita dongeng tentang para Bodhisattwa yang memberikan hidupnya untuk orang lain, meskipun sejarah Buddhis menyarankan sangat sedikit contoh di mana orang-orang benar-benar melakukannya.

Satu poin terakhir, jika non-Buddhis dapat menjadi seorang bodhisattwa, bisakah seorang non-Buddhis merealisasi pencerahan? Seperti apa yang saya tulis di www.buddhismatoz.com dalam ‘paham universal (universalism)’ ‘Perealisasian pencerahan bukanlah tergantung dari memenangkan persetujuan seorang dewata, tetapi dengan menyadari beberapa kebenaran alamiah, di mana setiap orang memiliki kapasitas untuk itu. Hal ini karena itu dapat dimengerti bahwa bahkan mereka yang belum pernah mendengarkan Dhamma bisa menjadi tercerahkan. Bagaimanapun, kita dapat mengatakan, keterbukaan terhadap ajaran Buddha membuat apresiasi tentang hal itu lebih mungkin. Apresiasi dari ajaran Buddha akan membuat keinginan untuk mempraktikannya lebih mungkin. Mempraktikan ajaran Buddha akan membuat perealisasian pencerahan berkali-kali lebih memungkinkan.

Tanya Jawab

Ben bertanya:

Apakah Siddhartha seorang Buddhis? Apakah ia mengambil perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sanggha? Apakah umat Buddha sekarang ini berusaha untuk mencapai pencerahan dengan cara yang Buddha lakukan?

Dan satu pertanyaan tambahan selanjutnya: Awalokiteswara dikatakan berasal bukan hanya sebagai seorang Buddhis, tetapi juga untuk mengajar dengan sepenuhnya agama-agama yang berbeda di dalam emanasi/aura yang berbeda, tidak untuk membodohi orang, tetapi untuk membawa mereka ke jalan menuju pencerahan walaupun mereka mungkin tidak sampai membaca untuk ajaran ‘yang lebih tinggi’. Untuk membawa sedikit berpikir lebih jauh, Yesus bisa saja menjadi emanasi (pancaran/aura) dari Awalokiteshwara

Shravasti Dhammika menjawab

Ben yang terhormat,

Untuk mengatakan Buddha bukanlah seorang Buddhis adalah pendapat saya, yang sedikit ke arah akademik. Dia tidak hanya mempraktikkan apa yang diajarkan atau dikhotbahkannya, tetapi ia sudah menyadarinya. Itu adalah definisi yang cukup baik dari umat Buddha. Saya tidak tahu dengan apa lagi seseorang dapat memanggilnya?

Awalokiteswara memiliki hidup yang panjang dan agak menarik. Baik di usia muda dan juga usia bayanya, dia adalah individu yang berbeda. Barulah di kehidupan kemudian (setelah abad ke 7-8 dan bahkan lebih sangat kemudian di Tibet) ia mulai memiliki kemampuan untuk menjadi ‘manifestasi/perwujudan’ tentang, kira-kira apa pun. Walaupun baik untuk menjadi terbuka dengan kebaikan di dalam keyakinan/agama lain, adalah penting bahwa kita tidak pergi begitu jauh di bawah jalan itu yang akhirnya kita berkeliaran tanpa tujuan di hutan dari ‘semua agama adalah sama’. Lalu keunikan pandangan terang (pengetahuan yang dalam) dan perspektif dari keyakinan-keyakian/agama yang berbeda dibuang ke laut atas nama ‘spiritualitas global’.

Thanks to My friend Tasfan for helping me during the translation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s