MENEMUKAN MATA AIR BARU (Ketekunan)


Pada suatu ketika seorang pedagang sedang memimpin sebuah rombongan menuju negara lain untuk menjual barang dangangannya. Sepanjang perjalanan mereka sampai di tepi gurun pasir yang sangat panas. Mereka bertanya tanya dan mengetahui bahwa ketika siang hari matahari memanaskan pasir halus tersebut hinga sama panasnya dengan batu-bara yang sedang terbakar, jadi tidak ada seorang pun yang mampu berjalan di atasnya, tidak juga sapi-sapi jantan maupun unta. Jadi pemimpin rombongan tersebut menyewa seorang pemandu gurun yaitu seseorang yang mempunyai kemampuan melihat bintang-bintang, dengan demikian mereka dapat melanjutkan perjalanan hanya pada malam hari ketika permukaan pasir mulai dingin. Mereka pun memulai perjalanan yang penuh bahaya melewati gurun pasir pada waktu malam hari.

Setelah beberapa malam, setelah makan sore dan menunggu permukaan pasir menjadi dingin, mereka memulai perjalanan lagi. Pada malam selanjutnya, Pemandu gurun yang mengendarai kereta paling pertama melihat dari bintang-bintang bahwa mereka sudah hampir melewati gurun pasir tersebut. Dia juga bahkan kelebihan makan, jadi ketika dia beristirahat dia tertidur sebentar. Lalu sapi-sapi jantan yang sudah tentu tidak dapat memberitahukan arah dengan membaca bintang-bintang, sedikit demi sedikit berganti arah dan berputar sampai 180 derajat. Mereka akhirnya sampai di tempat yang sama seperti ketika mereka mulai berjalan.

Kemudian di pagi harinya, orang-orang menyadari bahwa mereka kembali ke tempat yang sama di mana mereka telah berkemah di sana pada hari sebelumnya. Mereka ketakutan dan mulai menangis meratapi kondisi mereka. Karena seharusnya masa melewati gurun sudah berakhir, mereka sudah tidak mempunyai air lagi dan takut akan mati kehausan. Mereka bahkan mulai menyalahkan si Pemimpin rombongan dan Pemandu gurun “Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa adanya air” keluh mereka.

Kemudian si pedagang berpikir dalam dirinya “Jika sekarang aku kehilangan keberanian ku, di tengah-tengah situasi yang mendatangkan malapetaka ini, kepemimpinanku tidak akan ada artinya. Jika aku mulai menangis dan menyesali ketidakberuntungan ini, dan tidak melakukan apa-apa. Semua barang-barang ini, sapi-sapi jantan dan bahkan hidup orang-orang termasuk diriku sendiri barang kali lenyap. Aku harus bersemangat dan menghadapi situasi ini.” Lalu si saudagar mulai mondar-mandir, berusaha memikirkan rencana untuk menyelamatkan mereka semua.

Dengan sisa kewaspadaan, di luar pengelihatannya ia memperhatikan serumpun rumput. Dia berpikir, “Tanpa air, tidak ada tanaman yang dapat tumbuh di gurun.” Untuk itu si Pedagang memanggil kawan-kawan seperjalanannya yang paling bersemangat dan meminta mereka untuk menggali tanah di tempat terdapatnya rumput tersebut. Mereka menggali dan menggali dan setelah beberapa saat mereka mendapati batu yang besar. Mereka berhenti menggali ketika melihat batu tersebut dan mulai menyalahkan pemimpinya lagi. Sambil berkata, “Usaha ini sia-sia. Kita hanya menghabiskan waktu kita saja.” Akan tetapi si Pedagang menjawab “Tidak teman-temanku, jika kita menyerah usaha kita semua akan digagalkan dan hewan-hewan kita akan mati, mari kita besarkan harapan kita.

Ketika si Pedagang mengatakan kalimat ini, ia turun ke dalam lubang dan meletakkan telinganya pada batu besar itu dan ia mendengar suara dari air yang mengalir. Dengan segera, ia memanggil seorang anak laki-laki yang sebelumnya ikut menggali dan berkata “Jika kamu menyerah, kita semua akan tewas, jadi ambilah palu yang berat ini dan hantam batu itu.”

Anak laki-laki itu mengangkat palu tersebut ke atas kepalanya dan memukul batu itu sekeras yang dia bisa. Anak laki-laki itu amat terkejut, ketika batu itu terbelah menjadi dua bagian dan aliran air yang deras menyembur keluar dari bawahnya. Seketika itu juga semua orang sangat gembira. Mereka minum, mandi dan membersihkan hewan-hewan juga memasak makanan mereka kemudian memakannya.

Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mereka mengibarkan bendera tinggi-tinggi agar setiap pelancong lainnya dapat melihat sumber air itu dari jauh dan datang ke sumber air baru di tengah-tengah gurun pasir panas itu. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan selamat sampai akhir tujuan.

Pesan moral : Jangan gampang menyerah, teruslah mencoba sampai tujuanmu tercapai.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit

Source: Prince Goodspeaker (Buddhist Tales for Young and Old) Volume 1, stories 1-50

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s