Kejamnya Dunia


Suatu hari Aku menemukan diriku, menagis di pepojokan ruangan sempit dari sebuah restoran yang baru saja tutup. Hari itu terasa sepi, menyesak, hampa… rasa ini telah sekian lama mengisi hatiku, memenuhi ruangannya tanpa ada lagi tempat untuk hal lain di hatiku. Hatiku dingin, sedingin malam itu. Malam yang seperti mimpi, bagai hayalan yang tidak bisa Aku bayangkan dengan mataku yang sembab membiru, lebam, dan menggelembung. Entah berapa lama mata ini basah dan tak terpejam. Sungguh semua di luar perkiraanku, dan yang Aku pikirkan di luar prediksiku. Kalau saja waktu bisa Aku putar kembali, dan saat itu kau tidak lengah, pastinya kejadian ini tidak akan terjadi. Aku benci momen itu, benci.. benci.. benci… Aku kutuk orang-orang itu, Aku maki orang-orang itu, Aku.. Aku… Aku…. Namun Aku tidak bisa berbuat apa-apa… Aku tidak ada di sana, Aku hanya ada di satu sisi menyaksikannya, melihatnya, menontonnya dengan nanar kejadiaan naas tersebut. Mereka sungguh memalukan bagiku, tak punya rasa ampun, tak punya belas kasihan, mereka kejammmmm. Oh malangnya kau, kalau saja saat itu Aku ada untukmu, membantumu sebisaku, menolongmu… sayangnya aku hanya bisa menyuarakanmu, sungguh Aku menyesal.

Sejak tadi siang Aku sudah tak bergairah, makanan di piringku utuh tak ku sentuh sedikitpun, lidah ini kelu, capai memaki, kering kerontang. Siang ini pemilik restoran marah-marah, karena Aku lalai melayani pelanggan. Ini semua kerenamu, Aku tiada berhenti memikirkanmu. Pikiranku terus saya membayangkan kejadian itu. Hatiku benar-benar sakit, pedih, dan kau benar-benar mengecewakanku. Omelan si bos, sungguh tak pernah serasa lebih sakit daripada apa yang kau lakukan padaku. Padahal dari awal Aku sudah mendukungmu, memberimu semangat, memujimu, dan menganggap dirimu yang terbaik.. Namun nyatanya apa??? Kau membiarkan mereka memperlakukan hal itu kepadamu, kau tak mampu melawan dan menghadapi mereka, kau lemah… coba Andai saja kau lebih berhati-hati, pasti kejadiannya itu takkan seperti ini, oh.. nasibmu malang sekali… sama malangnya dengan nasibku yang merasakan sedih untukmu.

Tak terasa air mata ini mulai kembali menetes di pipiku, Aku tak tega memakimu karena aku terlanjur mencintaimu… Apa pun yang terjadi Aku akan tetap selalu mencintaimu, memilihmu, mempercayakanmu sebagai jagoanku… Oh… Jerman… coba kalau tadi pagi kamu ga kalah dari Spanyol, pasti Aku sudah menang taruhan… hiks… hiks… habis dah uang gajiku selama sebulan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s