DESA HATI


By Selfy Parkit

Di sebuah desa terpencil yang bernama desa Hati, tinggallah tiga orang sahabat yang bernama Tulus, Cinta dan Teman. Tulus dan Cinta adalah saudara kandung, mereka selalu bersama-sama dalam melakukan segala hal, di mana pun Cinta berada Tulus akan selalu ada bersamanya. Namun begitu kadang kedua gadis ini pun berselisih, perihal sikap Cinta yang sedikit egois dan selalu ingin menikmati kesenangannya sendirian saja tanpa tulus. Apalagi kalau Cinta sudah jalan bareng dengan Teman, kadang-kadang Tulus tidak diajaknya pergi dan dibiarkan sendirian di rumah. Walaupun Tulus sedih, tapi hati Tulus selalu berusaha mengerti Cinta, karena Tulus sangat menyayangi saudari kembarnya itu.

Cinta dan Teman sudah lama mengenal satu sama lain dan memang tak heran kalau Cinta dan Teman menjadi sering jalan bareng, karena sepertinya mereka sama-sama saling menaruh hati. Namun walaupun begitu Teman, Tulus dan Cinta masih suka jalan bareng dan bersenda gurau bersama. Ya.. mereka bertiga terlihat akrab, tapi itu sebulan yang lalu sebelum hari valentine tiba, hari jadian Cinta dan Teman. Kini setiap akhir pekan Cinta dan Teman menjadi sering pergi berdua, sedangkan Tulus harus terpaksa menunggu di rumah. Namun walaupun begitu Tulus selalu bahagia, karena merasa saudarinya mendapatkan seseorang yang baik dan mencintainya. Cinta pun rupanya bahagia bisa selalu saling berbagi dengan Teman. Tapi Cinta yang sedikit egois kadang selalu menuntut lebih dari Teman. Cinta tidak suka kalau waktu Teman lebih banyak dihabiskan dengan sahabatnya Senang yang sering mengajaknya main games, daripada menghabiskan waktu untuk bersama dengannya. Bukan hanya itu saja, lama kelamaan Cinta juga mulai merasa cemburu dengan kedekatan Gadis yang merupakan adik kelasnya Teman. Karena hal-hal sepele itulah kadang mereka sering berselisih paham. Tulus sering sekali menasihati Cinta untuk lebih pengertian dan tidak egois. Namun Cinta yang semakin gusar malah marah-marah karena merasa dirinya benar, dan merasa tidak diperhatikan oleh Teman. Tulus hanya diam dan berpikir mencari cara untuk menyatukan mereka kembali.

Hari itu hubungan Cinta dan Teman sedang di ujung tanduk, apalagi Teman sudah lama melupakan kebahagiaannya dengan Cinta dan merasa lebih asik bermain dengan Gadis dan sahabatnya Senang. Tulus yang merasa iba dengan keadaan tersebut menyapa saudarinya dan berkata, “Kalalu kau sedih mengapa kau tidak telepon saja si Teman dan minta maaf kepadanya.”    “Biarkan saja dulu, Aku ingin melihat sejauh mana ia menyayangiku.” Jawab Cinta dengan sedih namun agak ketus. “Tapi kau sudah hampir tiga hari tidak memberi kabar dan menghubunginya, apalagi mengangkat telepon darinya. Apakah kau tidak kasihan kalau-kalau ia menghawatirkanmu?” “Biar saja sampai ia datang ke rumah dan meminta maaf. Bukannya bagus semakin dia mengkhawatirkanku, semakin dia memikirkan aku kan!” seru Cinta yang wajahnya tiba-tiba berseri-seri merasa bangga.” Tulus pun menghela nafas sambil berkata, “Semakin Teman memikirkan mu yang seperti ini, akan semakin tidak nyamanlah ia bersama dengan dirimu,..”  “..dan jika sudah begitu, maka akan semakin inginlah ia melupakanmu.” Seru Tulus sambil kembali ke kamarnya, merasa sudah tidak dapat membujuk saudarinya.

Keesokan harinya, Cinta yang sambil menangis tersedu-sedu datang menghampiri Tulus, “Teman memutuskan aku Tulus”, isak Cinta. “Mengapa hal itu bisa terjadi?”, tanya Tulus sambil mengusap air mata saudarinya. “Setelah semalaman memikirkan perkataanmu, akhirnya aku sadar dan merasa menyesal, lalu memutuskan untuk menemui Teman. Awalnya aku ingin meminta maaf, tapi setelah melihat Teman yang sedang berjalan berdua dengan Gadis, aku jadi cemburu dan marah-marah..”, ucap Cinta dengan nada yang menyesal, sambil terisak dan melanjutkan perkataannya, “Seketika itu saja tanpa penjelasan lagi Teman langsung memutuskan aku.” “Aku tak percaya kalau Teman setega itu. Lalu kenapa pula kau begitu mudahnya cemburu dan marah-marah, tanpa bertanya terlebih dahulu dengan baik-baik!..” Seru Tulus sedikit gerang, “Tapi jikalau ternyata Teman memang akhirnya ada hubungan dengan Gadis, maka mau tak mau kalau kau sayang dengan Teman, maka kau harus mengikhlaskannya.” Mendengarkan perkataan saudarinya, seketika tangisan Cinta semakin memecah. “Sudah, sudahlah aku akan menelepon Teman dan berbicara padanya.”, diambilnya ponsel yang ada di saku Jean, Tulus mulai mendengarkan nada sambung di telinganya. Tut…tut… dijawablah panggilan tersebut. “Halo Tulus, kau pasti ingin menanyakan perihal putusnya aku dengan Cinta, kau pasti sudah tahu ceritanya kan!”, seru Teman dengan mantap. “Iya, mengapa bisa terjadi? Aku tau kau mungkin merasa tidak suka dengan perlakuan Cinta, tapi kau seharusnya memberikan penjelasan kepadanya.” “Aku sudah sering sekali memberikan pengertian kepadanya, tapi kadang Cinta terlalu egois dan tidak mau mendengarkan.” “Kalau kau menyayanginya, seharusnya kau tidak pernah lelah untuk membuat Cinta mengerti.” “Tapi aku masih manusia yang kadang tidak akan tahan dengan perlakuan Cinta!”,seru Teman dengan nada yang sedikit putus asa. “Aku mengerti, tetapi bagaimanapun Aku, Cinta dan Kamu pernah menjadi sahabat kan! Walaupun aku tak mempercayainya, sekarang katakan dengan jujur, apakah kau memutuskan Cinta karena hubunganmu dengan Gadis?”, tanya Tulus tegas. “Sejujurnya aku menyayangi Cinta dan tak mau kehilangan dirinya. Namun semenjak tak ada kau di sisi kami, aku merasa hubunganku dengan Cinta sering berselisih paham.” Teman diam sejenak, dengan nada pelan ia melanjutkan, “Jikalau aku kembali dengan Cinta, maukah kau kembali bersama kami dan tidak meninggalkan kami, karena bersamamulah kami bisa saling mengerti.” “Aku tak pernah meninggalkan kalian, kalianlah yang meninggalkan aku. Sekarang datanglah ke rumah dan saling minta maaflah kalian”, seru Tulus sambil mengakhiri pembicaraan dan merasa bahagia. Teman pun akhirnya datang menemui Cinta. Mereka saling meminta maaf dan mengutarakan isi hati.

Mulai saat itu, kemana pun Cinta dan Teman pergi, Tulus akan selalu menyertainya. Namun kali ini Tulus tidak akan merasa sendiri lagi, karena ada Senang yang selalu ikut menemaninya. Cinta, Teman, Tulus dan Senang, akhirnya bisa hidup bahagia sampai mereka menikah dan beranak cucu di desa Hati.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s