Seorang Bodhisattwa pada Masa Kita


By.  Shravasti Dhammika, Terjemahan by Selfy Parkit

Beberapa minggu yang lalu saya memberikan ceramah tentang Dr. Bhimrao Ambedkar, seseorang yang tanpa berlebihan, bisa disebut murni, darah dan daging seorang bodhisattwa. Gandhi, Mother Teresa, Maximillian Kolbe dan beberapa orang lainnya juga bisa dianggap sebagai bodhisattwa, meskipun yang pertama adalah seorang Hindu dan dua lainnya Kristen. Anda tidak perlu menjadi seorang Buddhis untuk menjadi seorang bodhisattwa. Cinta kasih melampaui batas aliran/sekte. tetapi orang-orang ini terkenal di dunia, sementara Ambedkar tidak banyak dikenal di luar India. Pada saat ceramah saya sudah delapan orang bertanya kepada saya, di mana mereka dapat memperoleh informasi lebih mengenai orang hebat itu dan saya sudah memberikan mereka tiga atau empat reputasi pembelajaran baik tentang dia. Sementara melakukan hal tersebut saya teringat Jabbat Patel film pemenang penghargaan tahun 1991— Dr. Bhimrao Ambedkar, yang sayangnya saya tidak pernah dapat menemukan versi pengisi suara (dubbed) dalam bahasa Inggris.

Berikut ini adalah adegan dari film itu, yaitu ketika Ambedkar dan seratus ribu pengikutnya berubah keyakinan menjadi penganut Buddhis di tahun 1956. Ini adalah gambaran bergerak yang cukup realistik dari peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Buddhis modern. http://www.youtube.com/watch?v=PpAjQ-pdgNU&feature=related (Berikut penerjemah juga melampirkan biografi dari Dr. Ambedkar http://www.culturalindia.net/reformers/br-ambedkar.html)

Question and Answer

Question:

Teck

Yang mulia Bhante,

Saya tidak yakin apakah reputasi suci Mother Teresa adalah media hype (untuk mempromosikan seseorang atau sesuatu dengan publisitas yang intens) atau dibuktikan oleh kenyataan. Lihatlah rangkaian videonya dimulai dari yang satu ini: http://www.youtube.com/watch?v=FwTfZK0Sv9s

Kemudian, saya membaca bahwa Gandhi memiliki kebiasaan seksual yang aneh. Dia menuntut pengikutnya untuk pantang (menahan nafsu) tetapi akan meminta agar istri-istri dari para pengikutnya tidur dengannya. Bagaimana kebenarannya, saya tidak tahu.

Saya merasa bahwa kita tidak boleh benar-benar mempercayai orang atau berpegang kepada siapa pun untuk mengukur kemanusiaan belaka yang tidak mampu dijangkau. Karena itu, saya tertinggal jauh dari praktik saya.

Apakah Anda punya saran?

Banyak terima kasih.

Answer:

Shravasti Dhammika

Teck Yang terhormat, Mother Teresa memiliki kekurangan begitu juga dengan Gandhi (Dia memang ‘tidur’ dengan para wanita tetapi tidak pernah berhubungan seks dengan mereka. Dia selalu ‘menguji’ dirinya sendiri). Tetapi menurut perspektif/pandangan Buddhis setidaknya, seorang bodhistattwa tidaklah sempurna, kesempurnaan hanya datang pada ke-Buddha-an. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang mewujudkan keberanian, kejujuran, kesabaran, pengorbanan diri dan kasih sayang yang lebih dari biasanya, sampai tingkat yang luar biasa. Saya akan mengatakan kualitas boddhisattwa yang dimiliki Gandhi— seperti keberanian, tekad dan pengorbanan diri yang penuh kasih. Tampaknya kedua kesalahan mereka yang sangat manusiawi hanya menekan kebajikan manusia-luarbiasa mereka. Saya membaca tentang orang-orang seperti mereka dan berpikir, “Manusia, seperti saya. Tetapi menginspirasi juga dan mencapai kebajikan yang benar-benar besar dan heroik. Jika mereka bisa, kemungkinan saya juga bisa.” Saya merasa kekurangan-kekurangan/ kelemahan mereka bersifat menentramkan hati karena mereka berbicara mengenai kemanusiaan mereka. Hal ini menempatkan mereka tepat di bawah sini, di bumi di mana saya berada. Dan setidaknya dalam kasus Gandhi ia bisa saja mengejutkan dengan berkata jujur tentang kekurangan-kekurangannya, dan bahkan membuatnya sebagai lelucon. Saya menyukai hal itu. Ada insiden terkenal di mana seorang ibu membawa anak laki-lakinya kepada Gandhi untuk memintanya memberitahukan kepada si anak untuk berhenti memakan gula. Gandhi meminta si ibu untuk membawa anak itu kembali dalam seminggu. Si ibu melakukannya dan Gandhi berkata kepada si anak laki-laki ‘berhentilah memakan gula’. Sang ibu agak tidak puas dengan hal ini dan mencela Gandhi, ‘Anda bisa saja mengatakan hal itu kepadanya minggu lalu!’ ‘Ya, saya bisa’ dia menjawab, ‘Tetapi minggu kemarin saya juga makan gula’.

Teck, saya rasa masalahnya terletak pada diri Anda sendiri, Anda mengharapkan kesempurnaan dan berkecil hati bila Anda menemukan beberapa kekurangan, beberapa kebiasaan khusus, beberapa kegagalan dalam mengangkat mereka sebagai teladan. Kegagalan Gandhi tidaklah berarti jika disandingkan dengan kualitas-kualitas baiknya, dan sama halnya dengan Mother Teresa. Mengapa tidak membiarkan diri Anda terangkat oleh kekuatan mereka daripada terlempar oleh kekurangan/ kelemahan mereka?

Question:

Teck

Yang mulia bhante,

Terima kasih untuk balasan Anda

Pendapat Anda mengenai melihat pada kekuatan dari orang-orang ini dan menjadikannya inspirasi diterima dengan baik. Saya tidak setuju dengan pendapat Anda tentang kelemahan/ kekurangan mereka menjadi sifat yang menentramkan hati.

Saya membayangkan diri saya sebagai pengikut Gandhi. Jika dia meminta saya untuk mempraktikan selibat dan kemudian ingin memiliki istri saya tidur di ranjang yang sama dengannya sementara ia telanjang, “hanya untuk menguji dirinya”, apa yang harus saya lakukan dengan permintaan ini (atau perintah, mengingat saya adalah pengikutnya)?

Saya melihat ini sebagai penghinaan terhadap perempuan. Juga, apakah ini tidak menunjukkan bahwa ia perlu untuk membuktikan dirinya (ego?) adalah jauh lebih penting terhadap penghormatan yang seharusnya dia selaraskan dengan pengikut laki-laki dan perempuannya. Bagaimana mungkin saya bisa merasa tentram dengan kelemahannya?

Pada kasus Mother Teresa, jika Anda menonton ketiga video tadi, dia dan jemaahnya menerima banyak uang sumbangan. Akan tetapi bukannya mengobati yang sakit, menyediakan perawatan yang tepat bagi yang miskin, dia menempatkan mereka di banyak kamar, dengan tandu, untuk menunggu kematian mereka. Saya tidak berhasil melihat apa bagian dari motivasinya yang apakah itu seorang bodhisattwa? Bahwa apakah hanya melalui penderitaan seseorang bertemu dengan Tuhan, maka orang-orang miskin ini sangat kekurangan perawatan medis? Saya akan berpikir melalui upaya meringankan penderitaan orang lain barulah seseorang bertemu Tuhan. Saya pikir dia lebih berbahaya daripada baik.

Bagi saya, Saya rasa saya tidak mengharapkan kesempurnaan bagi setiap orang. Tetapi saya rasa hal ini mengecilkan hati melihat bahwa guru Dhamma memiliki kekurangan yang sama seperti saya. Maksud saya adalah bahwa saya tidak dapat melihat bagaimana guru  itu dapat membimbing saya seperti itu.

Answer:

Shravasti Dhammika

Yang terhormat Teck,

Beberapa tahun lalu saya tiba-tiba bertemu dengan seorang teman baik saya di pusat retret seorang guru meditasi terkenal di Burma. Dia bertindak sebagai penerjemah bagi guru. Dia sudah di sana selama lima tahun, belajar dari guru dan bertindak sebagai penerjemah ketika bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka datang berkunjung. Dia mengatakan kepada saya bahwa baru-baru ini ia menerjemahkan untuk si guru sebuah surat yang ditulis dan ditujukan kepada si guru oleh laki-laki berkebangsaan Amerika pada hari di mana dia telah pergi. ‘Apa isi surat itu?’ Tanya saya. Ia menjawab, ‘Orang Amerika itu telah mengatakan guru itu sombong, kejam, dingin dan kurang cinta kasih. Dia menuduh si guru sebagai ‘seorang pembangun kerajaan’ dan mengatakan dia menciptakan kultus (penghormatan secara berlebih-lebihan) pribadi’ di sekitar dirinya sendiri. Hal ini sedikit kasar, bahkan bagi saya, dan saya diam untuk sementara waktu. Kemudian saya bertanya, ‘Berapa banyak kebenarannya?’ ‘sebagian besar’ kata teman saya. Jawabannya bahkan lebih mengejutkan saya, bukan pengakuan itu saja (saya sudah mendengar hal yang sama dari banyak orang) tetapi ia harus mengatakannya. ‘Lalu kenapa kau masih di sini?’ tanya saya. Dia berkata, ‘Karena dia (si guru) juga ada untuk menjadi seorang guru meditasi yang terampil dan saya telah belajar banyak dari dia, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan Saya akan tinggal sampai saya tidak dapat belajar apa-apa lagi.’ Saya rasa ini adalah sikap yang sangat dewasa.

Terlalu sering kita mengidealkan para guru, pahlawan, dan sebagainya. Lalu ketika kita mendapati bahwa mereka tidak sempurna, baik kita menolak ketidaksempurnaan mereka kita juga bahkan membuang mereka sepenuhnya. Pendekatan pertama ini membawa Anda ke dalam khayalan yang mungkin berbahaya sedangkan yang kedua berarti Anda mungkin saja menjauhkan diri Anda dari sesuatu yang penting yang mungkin sebaliknya Anda pelajari. Ketika seorang guru cacat secara moral, itu adalah masalah lain. Ketika mereka mengaku tercerahkan itu pun masalah lain. Tetapi jika mereka tidak melakukan salah satu dari kedua-duanya dan kekurangan mereka hanyalah tipe kepribadiannya, dan mereka memiliki wawasan murni atau beberapa keterampilan nyata. Saya berkata ‘Belajarlah dari mereka apa yang Anda bisa, bersyukur untuk itu dan lanjutkanlah’

Satu hal terakhir. Salah satu dari sekian banyak alasan saya memilih Buddhisme awal atas tradisi Vajrayana adalah desakan/keteguhannya bahwa seseorang dapat dan harus mempertanyakan serta menyelidiki/mengkaji seorang guru (lihat sutta Vimsaka). Jika saran ini diterima (tidak selalu begitu) seharusnya ada kemungkinan belajar darinya, memanfaatkannya dan memiliki rasa terima kasih/ syukur terhadap seorang guru, bahkan jika ia (laki-laki atau perempuan) memiliki ketidaksempurnaan.

Teck

Terima kasih yang mulia, saya sangat menghargai komentar Anda.

Naskah asli dapat dilihat di: http://sdhammika.blogspot.com/

Thanks to Tasfan (for helping me during the translation)

One thought on “Seorang Bodhisattwa pada Masa Kita

  1. Benar!
    Ketika kita sudah mengidealkan sesuatu baik dari diri sendiri maupun dari orang lain..
    Ketika kenyataannya tidaklah ideal, kita akan langsung merasa kualitas objek tersebut sangatlah buruk..
    Tetapi ketika kita merasa hal tersebut biasa saja, maka ketika ia tidak ideal kita juga akan biasa-biasa saja (kalau pun tidak biasa tidak akan seekstrim ketika kita mengidealkannya)..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s