SMS Aneh dari Seorang Suami


Oleh Selfy Parkit

Beberapa hari ini, pikiranku diliputi oleh kecemasan dan ketakutan perihal SMS-SMS aneh yang dikirimkan oleh teman dari Bapakku yang sudah menikah. Karena sudah menikahlah, maka kecemasan dan ketakutan dalam mengambil tindakan pun muncul di batin ini. Memang kelihatannya isi dari SMS-SMS tersebut terkesan seperti ‘Ada udang di balik batu’, ditambah lagi dengan niatnya untuk membelikanku pulsa handphone dan menelepon tanpa berurusan, hanya sekedar untuk menanyakan apakah aku sudah makan siang atau belum. Bagaimana kecemasan dan ketakukan itu tidak hadir, ketika benar-benar dikirimkannya nomor kode pengisian pulsa ke ponselku melalui SMS. Apalagi sehari sebelumnya mantan bos dari Bapakku ini sempat menanyakan tanggal kelahiranku. Pikiranku yang kalut ini sudah berusaha untuk terus mempertahankan hal positif, namun tak pelik karena bingung aku pun berusaha meminta nasihat dan masukkan dari beberapa orang temanku mengenai apa yang harus aku lakukan. Ternyata tak satu pun dari mereka yang mendukung pikiran positifku ini. Respon dan masukkan yang mereka ajukan semuanya negatif. Selain secara tidak langsung Aku diminta untuk menghindarinya, Aku pun dianjurkan untuk tidak menerima kebaikan apa pun yang diberikan olehnya. Semua berpendapat bahwa orang ini memang punya maksud tertentu yang bukan-bukan. Pikiranku pun jadi semakin resah. Di satu sisi jika hal tersebut benar adanya, berarti saat ini jika ku turuti apa yang dilakukannya, maka secara tidak langsung Aku akan menjadi kondisi perusak rumah tangga orang dan anak yang tidak berbakti karena sudah mempermalukan kedua orang tuaku. Misalnya saja, anggaplah Aku menerima ajakan makan siangnya atau menerima pulsa handphone yang diberikannya, lalu si istri mengetahuinya dan ribut karenanya.

Dengan begitu lengkaplah sudah label yang kubuat sediri, yaitu sebagai wanita perusak rumah tangga orang. Di sisi lain pikiran positifku berkata bahwa tidak ada salahnya seseorang untuk berbuat baik kepada siapa pun. Apalagi jika kenyataannya toh hal tersebut tidak benar, maka berarti Aku sudah berpikir negatif dan juga melarang orang lain untuk berbuat baik. Jikalaupun pada kenyataannya orang itu memang benar- benar punya maksud lain di balik kebajikannya, namun yang terpenting adalah pengendalian diri sendiri. Masih untung maksudnya ditujukan kepadaku yang masih bisa dan punya pengendalian diri, daripada hal tersebut dilakukan kepada orang lain yang mungkin bisa membuat dirinya malah terjerumus dan akhirnya membuat rumah tangga berantakan. ‘Mungkin diri ini bisa menyadarkannya.’, pikirku berusaha untuk tetap mengarah kepada hal-hal yang positif.

Dengan bergulirnya waktu disertai kondisi-kondisi negatif baik dari luar dan dalam yang terus menghimpitku, yang hampir saja memusnahkan semua pikiran-pikiran positifku, membuatku belum memutuskan apa yang harus Aku lakukan untuk orang yang satu ini. Ingin rasanya menuruti kecemasanku dengan cara menghindari orang tersebut dan tidak membalas SMSnya ataupun mengangkat telepon darinya. Ketakukan dalam diri ini pun siap dengan segala aksinya memberikan kemungkinan-kemungkinan negatif yang bisa saja terjadi. Namun, hati nurani yang masih bersisakan hal yang positif ini mengajakku untuk tidak tega melakukannya. Sejenak Aku berhenti berpikir dan melepaskan lelah di kamarku, berharap sakit kepalaku ini akan segera reda. Segeralah ku silent ponselku dan berharap agar Aku bisa tidur nyenyak dan bangun dengan segar guna mengerjakan tugas yang harus kuselesaikan. Ku rebahkan tubuh ini dan ku pejamkan mataku perlahan-lahan, namun rupanya Aku tak dapat tertidur, sampai akhirnya terdengarlah bunyi getar dari ponselku. Dalam hati ini berkata, ‘Pasti telepon itu dari dia.’ Ternyata benar, laki-laki yang umurnya lebih muda dari Bapakku ini sedang meneleponku dan seakan-akan memintaku untuk cepat menjawab telephone-nya. Batin ini sempat ragu dan malas, ‘Pasti dia ingin menanyakan perihal kode pulsa pemberiannya, apakah sudah kumasukkan atau belum.’, pikirku sambil mengajukan proposal untuk membiarkan dan tidak mengangkat telepon darinya. Namun di sisi lain, si malaikat kecil yang bersembunyi di sela-sela batinku memberikan pendapat lain kepadaku untuk segera mengangkat dan menjawab telepon tersebut. Si malaikat ini berkata, ‘Kalau kau ingin menyelesaikan masalah dan memberi jawaban atas rasa cemas dan takutmu itu, maka tanyalah alasannya mengapa ketakutan dan kecemasan itu patut muncul di hadapanmu’. Akhirnya dengan sedikit kemenangan mengalahkan sang ego, Aku pun segera mengangkat ponselku bermaksud menanyakan alasannya mengapa mengirimiku pulsa. Namun, karena terlalu lama berpikir, telepon darinya pun tak sempat terjawab. Sudahlah ku pikir, mungkin akan ku biarkan saja kode pulsa itu menjadi penghuni kotak masuk pesan di ponselku. Tak selang beberapa detik kemudian bunyi getar ponselku pun kembali terdengar. Kali ini tanpa pikir panjang Aku pun menjawab panggilannya. “Halo, ada apa ya Ko?”, kataku sambil menanyakan urusannya menelponku.  “Tidak ada apa-apa, memangnya tidak boleh menelepon?”  “Ga, bukannya nggak boleh telepon, kan yang namanya orang telepon pasti ada urusan.”, jawabku berusaha menenangkan hatiku. Kemudian benar saja rupanya dia menanyakan apakah kode nomor pulsa yang diberikannya sudah kumasukan atau belum. Aku pun tak enggan secepat kilat menanyakan alasannya dan mengatakan kepadanya untuk tidak usah repot-repot mengirimiku pulsa. Dengan tenang laki-laki ini menjawab, “Setiap hari saya isi pulsa, jadi sekalian saja saya isiin buat kamu.”  “Wah.. ga usah repot ko, saya isi pulsanya aja sebulan sekali. Lagi pula pulsa saya juga masih ada.”, jawabku berusaha untuk tetap membuat dia mengatakan alasan yang sesungguhnya.  “Kamu kan kirim-kirim SMS kata-kata inspirasi setiap hari, apa ga pake pulsa!”, serunya mengingatkan akan kegiatanku di pagi hari yang selalu mengirimkan SMS inspirasi untuk teman-temanku. “Oh.. itu gratis ko, saya dapat SMS gratis sebanyak 100 pesan ke semua operator.”

Pada akhirnya laki-laki beranak dua ini tetap memintaku untuk menerima pemberiannya, karena sudah terlanjur membelinya. Sesaat dia kembali berkata kepadaku, kali ini perkataannya agak sedikit aneh. Dia memintaku untuk mendoakannya. “Mendoakan untuk apa?”, tanyaku sedikit penasaran.  “Tolong doakan saya, karena bulan Agustus saya akan berangkat ke Thailand untuk menjadi seorang bhikkhu.”    “Jadi bhikkhu!”, jawabku sedikit tak percaya. “Lalu, bagaimana dengan anak-anak dan istri Koko? Apa ada yang merawat mereka? Apa mereka semua setuju dengan keputusan Koko? Jangan sampai Koko meninggalkan tanggung jawab Koko di sini.”, Kataku dengan perasaan sedikit malu karena sempat berpikir yang bukan-bukan dan hampir terperangkap oleh pikiran negatifku. Lalu, si kepala rumah tangga ini melanjutkan dengan menjelaskan kepadaku kalau keinginannya untuk menjadi seorang bhikkhu memang sudah lama dan keluarganya pun menyetujuinya. Mendengar hal tersebut seketika kecemasan dan ketakutkan pun luntur dan menghilang. Tak ada yang perlu dicemaskan dan ditakutkan, semua hanyalah fantasi-fantasi dan persepsi-persepsi pikiran negatif terhadap sesuatu. Pada kenyataannya memang sulit untuk terus berpikir positif jika kita berada di lingkungan yang kondisinya kurang membantu dalam hal berpikir positif. Namun dari itu semua, kondisi luar hanyalah memengaruhi, yang terpenting adalah apa yang berada di dalam. Sungguh berpikir positif sangat membantu, jangan ragu dan takut jika perbuatan kita memang disadari oleh welas asih. Lalu janganlah pula terperangkat oleh pikiran yang selalu menciptakan dan mengkreasikan hal-hal negatif di dalam batin, karena jika kenyataanya tidak benar hanya rasa malu lah yang akan dihasilkannya.

Thanks to MyParents&Friends

2 thoughts on “SMS Aneh dari Seorang Suami

    • hahaha.. iya bener, harus hati-hati terhadap kasus yang beginiian kita harus tetap waspada tapi tetap berpikir positif, jangan sampe lengah dan ada kebencian di dalam diri kita. just be mindfull.. hehehe

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s