Jangan Disimpan Terlalu Lama


By Selfy Parkit

Ketika umurku 19 tahun, aku bertemu seorang pria yang merubah seluruh hidupku. Saat itu umurnya 26 tahun dan dia terlihat lebih muda dari laki-laki seumurannya. Penampilannya yang rapih, membungkus tubuhnya yang kurus, kulitnya putih dan matanya berwarna hitam, membuat dirinya lumayan tampan, apalagi jika ia mulai tersenyum. Pertemuan kami yang begitu singkat di sebuah acara keagamaan, membawa arti kesan yang mendalam bagi dirinya, hingga akhirnya memberikannya keberanian untuk mendekatiku lagi.

Di lain kesempatan kami bertemu kembali dan saat itu ia menawarkan diri untuk mengantarkanku ke kampus dengan motor bebeknya. “Aku tak keberatan, jika kau ingin mengantarkanku”, kataku. Tanpa pikir panjang diantarkannya Aku sampai di kampusku. Di dalam perjalanan kami saling berbicara, dia sempat menanyakan kapan Aku akan pulang dari kampus dan Aku memberitahukannya tanpa sempat berpikir kalau ia akan menjemputku. Begitu juga hari-hari selanjutnya setelah ia selesai meneleponku ia akan menunggu di depan kampus dan menjemputku. Ia akan selalu menatap lalu tersenyum kepadaku, namun Aku merasa tidak nyaman saat itu. Hari demi hari keadaan ini terus berlanjut, ia menjadi sering mengantar jemputku ke kampus. Aku tak kuasa menolak kebaikan hatinya dan Aku mulai merasa khawatir dengannya.

Suatu hari kami mendapati hal yang menarik dalam percakapan kami, ia berkata kalau ia suka hiking dan mengajakku untuk pergi bersamanya. “Oh Aku juga suka hiking, dan Aku sudah lama ingin melakukannya. Boleh Aku mengajak teman-temanku!” Pintaku. Akhirnya kami pergi hiking bersama dengan dua orang temanku. Dengan masing-masing mengendari sepeda motor, Aku bersamanya dan temanku di motor lainnya. Sampailah kami pada suatu tempat yang belum pernah Aku kunjungi sebelumnya. Keadaan tempat itu begitu asri dan indah. Kami pun menghabiskan waktu kami dan bersenang-senang di sana. Pada sore harinya kami memutuskan untuk pulang walaupun saat itu langit begitu gelap dan mendung. Di tengah-tengah perjalanan, hujan turun begitu lebat, dan kami harus berhenti sejenak. Seraya Ia mengambil jas hujan yang ada di bawah jok motornya dan memberikannya kepadaku. “Aku sudah pakai jaket!” kataku. Tetapi ia tetap saja memaksaku untuk mengenakannya. Tanpa mampu berkata lagi, akhirnya kukenakan jaket tersebut dan Aku merasa diperlakukan sangat spesial saat itu. Hujan turun begitu deras, namun motor yang kami kendarai masih saja tetap melaju melanjutkan perjalanan. Aku sudah mengenakan dua rangkap jaket ditubuhku, tetapi ia tidak mengenakan apapun kecuali T-shirt basah yang melekat ditubuhnya. Tangan dan tubuhnya mulai bergemetar kedinginan dan Aku mulai merasa sedikit khawatir kepadanya.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kota. Sementara kedua temanku berjalan pulang ke rumahnya masing-masing, ia mengantarkanku pulang dengan motor bebeknya. Ketika ia bergegas hendak meninggalkan rumahku, Aku sempat berkata kepadanya untuk tidak menjemputku lagi di kampus. “Aku hanya ingin mandiri.” kataku. Ia terdiam sejenak, wajahnya murung dan tubuhnya bergetar kedinginan. Ia masih memaksaku untuk tetap mau dijemput, tetapi aku kembali mengatakan “Tidak”. Ia berkata kalau ia ingin membuatku bahagia. “Jika kau ingin membuatku bahagia, biarkan Aku mandiri. Kau tidak perlu lagi menjemputku di kampus, ok!” jawabku tegas. Wajahnya menjadi pucat dan beberapa saat kemudian ia mengatakan sesuatu dengan suaranya yang parau, “I love you”

Aku tidak terlalu terkejut setelah mendengar pernyataannya, karena sebelumnya Aku sudah mengetahui dan menebak isi hatinya. Aku pun berkata jujur kepadanya, bahwa ia adalah orang pertama yang berani menyatakan perasaannya kepadaku, dan Aku tak dapat menerimanya karena ia belum mengenalku lebih jauh, begitu juga sebaliknya. Kemudian ia berkata “Oleh karena itu, Aku ingin mengenal dan mengertimu lebih jauh.”. “Kau tidak akan pernah bisa mengertiku.” Jawabku, “Perasaan adalah perasaan, jika kau menanggapi perasaanmu dengan serius, maka akan menjadi serius. Tapi jika kau menanggapinya dengan biasa saja, maka kau akan merasa jauh lebih nyaman.” kataku. Aku tak tahu perasaan semacam apa yang aku rasakan saat itu. Aku bertingkah seperti seorang gadis yang memiliki kekuatan super dan tak peduli tentang cinta. Lalu Aku berkata lagi kepadanya kalau Aku sudah menyukai orang lain. Ia salah seorang temanku yang pergi hiking bersama, tetapi Aku meyakinkan isi hatiku kepada dirinya bahwa perasaanku hanyalah sebuah perasaan. Aku tidak sedang berusaha membuat temanku menjadi seorang pacar atau apa pun, Aku hanya ingin melepaskan perasaanku. Ia masih terdiam, wajahnya masih kelihatan pucat dan murung. Tubuhnya bergemetar dan ia mulai meminum secangkir teh hangat yang Aku sudah suguhkan untuknya. Sebelum ia pulang, ia masih memaksa untuk menjemputku, akhirnya Aku menyetujuinya dengan satu syarat ia harus berjanji menjemputku pada hari selasa dan kamis saja, tidak setiap hari. Ia berjanji dan menitipkan motornya di rumahku lalu pulang berjalan kaki.

Keesokan harinya ia datang untuk mengambil motor bebeknya di rumahku dan menawarkan diri untuk mengantarku ke kantor tempatku bekerja. Itu sebabnya mengapa ia ingin menitipkan motornya di rumahku kemarin malam. Awalnya Aku sempat menolak tawarannya, namun karena desakan orang tuaku Akhirnya Aku pun menerima niat baiknya. Ia adalah seorang laki-laki yang berani di mataku saat itu. Selain ia adalah laki-laki pertama bagiku, ia juga seseorang yang masih datang menemuiku walaupun cintanya sudah ditolak.

Hari senin di malam hari, ia datang untuk menjemputku di kampus. Ia melanggar janjinya dan Aku sangat tidak menyukainya. Oleh sebab itu, Aku memutuskan untuk pulang naik mobil angkot dan meninggalkannya sendiri di depan kampus. Sungguh egois Aku waktu itu, dan Aku tahu kalu Aku telah sungguh menyakitinya. Saat itu, bagiku janji adalah sebuah janji, dan setiap orang akan berpikir kalau Aku adalah seorang gadis yang keras hati. Namun bagaimanapun, akhirnya Aku meminta maaf atas apa yang sudah terjadi padanya saat itu.

Dalam beberapa waktu Ia sering datang menemuiku pada malam hari untuk berbagi cerita dan masalah-masalahnya di tempat kerja. Kadang-kadang Aku merasa bosan, terganggu dan Aku tak tahu mengapa Aku merasa marah, ataupun membencinya tanpa alasan yang jelas kepadanya. Suatu malam, ia datang ke rumahku dan menceritakan masalah kerjaannya. Saat itu jam 10.30 dan Aku hampir saja bergegas ke kamarku untuk tidur, namun Aku masih tetap keluar untuk menemuinya dan mulai mendengarkan masalah serius yang dihadapinya. Pemikiranku saat itu amat keras, Aku berpikir bahwa masalah yang sedang dihadapinya sama sekali bukan masalah yang besar. Menurutku setiap orang dapat menyelesaikan masalah mereka sendri dan mereka tidak harus mencari orang lain untuk menyelesaikannya. Hal ini membuatku merasa sedikit kecewa padanya. Aku berpikir kalau ia orang yang lemah dan tidak cukup kuat untuk menghadapi sebuah masalah. Lalu, caraku menyelesaikan masalahnya pada saat itu bisa dikatakan sangat keras dan tegas. Sungguh egois Aku saat itu, Aku mengatakan kepadanya kalau ia selalu saja membawa berita buruk setiap ia menemuiku dan tidak pernah membawa cerita mengembirakan sama sekali. “Lain kali jika kau menemuiku tolong bawa cerita yang menggembirakan”. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang Aku katakan kepadanya sebelum ia pulang.

Setelah kejadian itu, aku tidak melihatnya lagi untuk waktu yang lama. Aku sudah melupakanya untuk sementara dan melanjutkan kehidupanku tanpanya. Akan tetapi, kata terakhir yang kuucapkan kepadanya membuatku merasa bersalah, dan membuatku selalu mengingat dirinya. Aku pernah menyalahkan diriku sendri dan berpikir kalau Aku bukanlah teman yang baik sama sekali. Oleh karena itu, Aku ingin bertemu dengannya lagi dan meminta maaf atas apa yang telah Aku katakan. Setiap kali Aku menghadapi masalah, Aku akan teringat kepadanya dan mengingat kesalahan yang telah kuperbuat. Hal ini memengaruhi hidupku dan membuatku sangat menderita. Aku mencoba untuk menghubunginya lagi dan kami sempat bertemu kembali beberapa kali, namun waktu dan situasinya selalu tidak tepat bagiku untuk mengutarakan permintaan maafku kepadanya. Aku pernah sekali membencinya, tetapi kali ini aku merasa sangat bersalah kepadanya.

Satu tahun berlalu, Aku masih saja belum meminta maaf kepadanya, dan tahun ini adalah tahun yang sangat sulit bagiku. Keluargaku mengalami masalah keuangan. Aku harus mencari uang lebih demi untuk membantu kedua orang tuaku, tiga keluarga dari saudara perempuan ibuku dan Aku pun harus membayar biaya kuliahku. Aku berusaha untuk berjualan apa saja ataupun mencoba untuk mencari pekerjaan paruh waktu, dan ini semua membuat kuliahku terabaikan. Hal yang sama terjadi pula di tempatku berkerja. Semuanya menjadi kacau dan masalah seakan hadir di mana-mana. Terlebih lagi situasi di tengah-tengah keluargaku menjadikan keadaanku semakin buruk. Kedua orang tuaku selalu bertengkar karena kondisi yang dihadapi saat itu. Ayahku menjadi lebih sensitif dan selalu marah jika menghadapi masalah sekecil apa pun. Ibuku kadang-kadang berputus asa dan selalu mengeluh atas kondisi perlakuan ayahku. Kadang-kadang ia pun berkata bahwa ia ingin mati saja. Aku tahu kalau mereka semua sedang menghadapi keadaan yang sulit, namun kondisi ini membuatku stres dan depresi. Terkadang Aku menyendiri dan menangis dengan sangat keras di tempat tidurku tanpa satu orang pun mengetahuinya, dan saat itu Aku akan teringat tentang dirinya. Perasaan bersalahku semakin dalam ketika Aku mulai menyadari bahwa setiap orang butuh berbagi dan tempat bersandar untuk menumpahkan semua masalahnya, walaupun mereka dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Pada saat itu Aku sangat membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku. Aku menjadi lemah dan kesepian. Aku sungguh merasa seorang diri, tak berarti dan merasa seperti manusia yang tak berguna di dunia ini. Pemikiran ini membuatku menderita, dan sempat membuatku berniat untuk segera mengakhiri hidupku. Bunuh diri, pemikiran yang paling bodoh yang pernah ada di dalam hidupku, tetapi saat itu sesuatu mengusik pikiranku dan hal ini membuatku sadar bahwa apa yang akan Aku lakukan adalah salah. Pemikiran itu adalah ia, laki-laki yang pernah Aku kecewakan, dan aku belum sempat mengatakan maaf kepadanya. Setelah melewati masa-masa itu, Aku pun berusaha keras untuk bangkit dan mengatasi masalah-masalahku, mencari kekuatan di dalam diriku, dan berusaha berpikir bahwa Aku pernah menjadi orang yang berharga di dunia ini.

Kondisi ekonomi keluargaku berangsur-angsur semakin membaik. Hatiku masih rapuh, tapi Aku memiliki kekuatan untuk berdiri dan melanjutkan hidupku di dunia ini. Aku masih mencari dirinya, berusaha untuk menghubungi dan bertemu dengannya dengan menggunakan berbagai alasan. Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan maaf kepadanya dan ‘Aku harus mengatakannya’, pikirku. Hal ini Akan mengurangi penderitaanku, dan membuatku segera melupakannya.

Sampai suatu hari, ia mengajakku untuk pergi berlibur bersama dengan teman-temannya ke pantai dan Aku punya kesempatan untuk meminta maaf kepadanya, namun Aku tidak dapat menggunakan kesempatan itu dengan baik. ‘Aku tak dapat menunggu lagi’ pikirku, ‘Betapa bodohnya Aku jika masih saja menyimpan perasaan bersalah ini di dalam pikiranku’. Untuk itu pada malam harinya Aku mengirimkannya SMS, dan mengatakan kepadanya tentang semua yang telah terjadi kepadaku. Aku berkata, ‘Maaf’ dan merasa menyesal atas apa yang aku lakukan, yang Aku inginkan adalah sebuah kata maaf  yang Aku dengar dari mulutnya sendiri. Akhirnya beberapa detik kemudian, ia  meneleponku dan berkata “Aku sudah memaafkanmu dan semua yang telah terjadi biarlah terjadi, tak dapat dipungkiri lagi. Mungkin hal itu memang sudah karmaku.” Itu adalah kata-kata indah yang pernah Aku dengar di dalam hidupku saat itu. Seketika Aku pun menangis dan merasa lega secara bersamaan. Aku menangis untuk kebahagiaan baruku, namun ada sesuatu yang terasa hilang di dalam hatiku. Ada sesuatu yang dicuri dari hatiku dan itu adalah dirinya. Aku menyadari bahwa telah Aku jatuh cinta kepadanya. Entah kapan cinta ini datang mengisi hatiku, Aku tak pernah mengetahuinya. Aku mencintaimu seperti kau mencintaiku dahulu. Orang berkata bahwa benci dapat berubah menjadi cinta dan cinta akan membawa kebahagiaan bagi dunia.

Parkit’04

ooO0Ooo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s