Dewa dan Dewi di dalam Rumah



Oleh Yenny Lan & Selfy Parkit


Bhakti

“Jika aku tua nanti…aku sulit berjalan…papalah aku nak”

“Jika aku tua nanti…aku sulit makan…suapilah aku nak”

“Jika aku tua nanti…aku sulit membersihkan badan…basulah aku nak”

Aku pernah membaca kata-kata ini, tertulis di sebuah spanduk besar di wihara sebuah daerah  kecil. Aku lama memandangi tulisan ini, aku juga lama membaca satu persatu kata yang ada dalam tulisan itu. Lalu dikejauhan aku melihat seorang kakek, mungkin umurnya telah lanjut sekeitar 60-an. Kakek itu sedang duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang rindang.

Beliau menatapku di kejauhan, lalu kakek itu tersenyum padaku. Tidak lama berselang, dari dalam rumah keluar seorang wanita. Ia telah tua, yang hampir seumuran kakek yang duduk itu. Lalu nenek itu menghampiri si kakek dan menemani duduk di sebelah kakek itu. Yah..aku tau.. mereka pasti sepasang kakek dan nenek yang hidup bahagia.

Nenek itu lalu melambaikan tangannya padaku, seakan memanggilku untuk datang ke mereka, dan aku pun berjalan menghampiri mereka. Nenek itu tersenyum padaku, dengan paras wajah yang begitu sejuk dan bertanya padaku “Nak, apa kamu tahu arti dari tulisan itu?” ucap nenek itu dengan suaranya yang sedikit bergetar. Aku terdiam lalu menggelengkan kepala menyampaikan pada mereka bahwa aku tidak paham tulisan dan arti kata-kata itu.

Si kakek menepuk kepalaku dengan lembut, dan kakek itu berkata padaku

“Nak, saat kamu kecil…kamu digendong mama dan papa”

“Nak, saat kamu kecil…kamu disuapi mama dan papa”

“Nak, saat kamu kecil…kamu dimandikan mama dan papa”

“Nak…nanti ketika papa dan mama kamu telah tua dan renta tak berdaya seperti kami, kamu jangan pernah mengeluh untuk memapah, menyuapi makan, dan membasuh badan mereka…karena saat kamu kecil…papa dan mama kamu tidak pernah mengeluh untuk merawat dan menyayangimu nak…”

Aku, mataku merah saat mendengar ucapan kakek itu. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Kata-kata yang begitu bermakna. I love Mama Papa… (Yenny Lan)

Waktu Untuk Mama

“Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan ini. Berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.” – Master Cheng Yen

Sebagai seorang anak tertua seharusnya aku menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku, dan tentunya aku yang paling diandalkan di dalam keluarga. Ketika aku masih duduk di bangku SMP, kedua saudariku masih kecil-kecil. Perbedaan umur kami lumayan jauh, yaitu selisih 6 dan 13 tahun. Karena pekerjaan mama sebagai ibu rumah tangga terlalu banyak, maka otomatis setiap tugas rumah dan ‘acara suruh menyuruh’ semua diandalkannya kepadaku. Seperti contohnya, mengisi air minum di botol, membeli kelengkapan dapur di warung, ataupun mengambil air di rumah tetangga untuk air tempayan yang nantinya digunakan untuk minum dan memasak, dan lain-lain. Pada saat itu kalau disuruh mama aku selalu malas, kerena merasa mama telah menyita waktuku untuk bermain dan nonton TV. Sering sekali aku menggerutu sebelum mengerjakan tugas-tugasku. Pernah juga aku mengeluh kepada mama ‘Mengapa aku terus yang disuruh pergi ke warung untuk beli barang-barang?’.

Tidak hanya itu saja, aku pun tak henti-hentinya merepotkan mama. Misalnya Ketika aku makan, aku yang terlalu dimanja oleh nenek sejak kecil dan terbiasa makan disuapi serta dilayani, jika ingin makan selalu saja merepotkan mama untuk minta dilayani. Karena mama ingin agar aku mandiri, mama selalu memintaku untuk melakukannya sendiri. Tetapi saat itu karena merasa kemauanku tidak dituruti, aku akan marah, mengambek dan mengancam untuk mogok makan. Mama yang sayang padaku tentu saja tak tega membiarkan anaknya kelaparan, diambilkannyalah nasi dan lauk pauk untuk aku makan. Belum lagi ketika aku sakit, aku sering sekali merengek dan merepotkan mama.

Jika aku mengingat kejadian-kejadian itu, sungguh aku bukan anak yang berbakti. Tapi hal ini selalu menyadarkanku bahwa berapa pun waktu yang kuhabiskan untuk membantu mama sungguh tidak akan sebanding dengan waktu yang dihabiskan mama dalam mengandung, melahirkan dan merawat serta membesarkanku. Sepuluh menit selama dua puluh lima tahun mengisi air minum di botol, tidak sebanding dengan waktu mama ketika mengandungku selama Sembilan bulan sepuluh hari. Lima belas menit selama dua puluh lima tahun waktuku untuk pergi ke warung dan membeli barang-barang, sungguh tidak sebanding dengan waktu dan perjuangan mama dalam melahirkanku selama beberapa jam. Tiga puluh menit selama dua puluh lima tahun waktuku mengangkati air tempayan di rumah tetangga, sungguh teramat tiada artinya jika dibandingkan oleh waktu yang dihabiskan mama dalam merawat dan membesarkanku. Namun hal itu semua tak pernah membuat mama merasa bosan, malas dan mengeluh, malahan hal yang terbaik terus saja diberikan kepada anak-anaknya demi kebahagiaan mereka. Semua makanan yang enak diberikan kepada anak-anaknya, sedangkan dirinya rela untuk tidak makan. Jika malam terbangun dari tidur, tak lupa dilihat kamar anaknya untuk memastikan anaknya baik-baik saja. Setiap hari menunggui anak-anaknya pulang dan tak pernah lupa mengingatkan mereka untuk menjaga kesehatan. Sungguh waktu yang dihabiskan mama untukku tidak sebanding dengan apa yang kulakukan untuknya.

Mama, satu dari sekian ibu adalah satu-satunya orang yang rela menghabiskan waktu untuk kebahagiaan anak-anaknya. Akan tetapi, pernahkah kita sebagai anak-anaknya rela menghabiskan waktu kita untuk kebahagiaan mama? (Selfy Parkit)

For my Beloved Parents,

Thanks for being my MoM

2 thoughts on “Dewa dan Dewi di dalam Rumah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s