KEYAKINAN DAN BUNGKUSNYA


Ketika ditanya mengapa Anda beragama Buddha? Mungkin saya takkan pernah bisa menjelaskan dengan muluk-muluk mengapa saya beragama Buddha dan memilih agama Buddha sebagai agama saya. Mungkin hal itu wajar saja, karena untuk memeluk suatu agama terkadang orang umumnya melihat bungkus luarnya terlebih dahulu tanpa tahu isi dalamnya seperti apa. Sama seperti contoh halnya yang saya lakukan dulu. Kalau kembali ke masa lalu, rasanya Anda mungkin tak percaya kalau orang seperti saya memutuskan untuk memeluk agama Buddha hanya karena hal-hal yang sepele saja. Tapi jika dipikirkan lebih lanjut, toh itu adalah sesuatu hal yang wajar dan manusiawi. Karena pada dasarnya kebutuhan orang beragama adalah untuk mengatasi rasa takut dan menambah kebahagiaan di dalam hidupnya. Begitu pulalah alasannya, mengapa saya beragama Buddha.

Beragama Karena Kenyamanan

Dulu ketika kecil, sebenarnya saya sempat menjadi seorang Buddhis yang rajin datang ke wihara untuk sekolah minggu. Namun sayangnya, karena masalah SDM (Sumber Daya Manusia) di dalam organisasi, maka wihara tempat saya kebaktian itu pun tidak lagi beroperasi. Otomatis kemudian beralihlah saya ke agama lain berkat ajakkan tetangga saya yang kebetulan aktif sebagai pengurus di tempat ibadah tersebut. Waktu itu umur saya sekitar 6 tahun, dan sejak saat itu saya pun menjadi seorang penganut yang rajin. Di hari kebaktian saya akan berpakaian rapih, bahkan lebih pagi datang ke rumah sahabat saya untuk menungguinya mandi dan pergi bersama-sama. Kegiatan setiap minggu itu saya lakukan dengan begitu antusias, namun tak pernah tahu apa yang sebenarnya saya tuju dan perbuat. Yang saya tahu, saya merasa gembira dan nyaman bila berkumpul, dan bermain bersama dengan kakak pengurus serta teman-teman di sana. Karena kenyamanan itulah yang membuat saya mampu bertahan selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Mungkin inilah alasannya mengapa setiap orang bisa langeng dengan keyakinannya, yaitu merasa nyaman dan bahagia. Benar pula adanya kalimat yang mengatakan bahwa agama adalah suatu kecocokan. Untuk itu perlu dan penting sekali di dalam Buddhisme dilakukan pengembangan sistem di mana para umat merasa nyaman dengan kondisi dan suasana kebaktian, khususnya untuk kebaktian sekolah minggu di wihara.

Mungkin Sudah Jodoh

Seiring bertambahnya usia, ada satu kerinduan di dalam diri saya untuk datang lagi ke wihara. Hal ini dikarenakan di tempat saya bersekolah ketika SD tidak diajarkan agama yang saya anut, maka mau tidak mau saya pun harus mengikuti pelajaran agama Buddha, dan rupanya saya lumayan berprestasi dengan pelajaran tersebut. Namun kerinduan itu tidak begitu saja memudarkan kesetiaan saya terhadap agama yang saya anut itu, sampai akhirnya keyakinan saya mulai tergoyahkan ketika meninggalnya nenek saya di umur saya yang ke 9 tahun. Kecintaan saya terhadap nenek saya membuat saya ingin lebih menghormatinya, dan menurut saya sembahyang adalah salah satu bentuk penghormatan saya kepadanya saat itu. Namun di dalam agama saya, saya tidak diperbolehkan untuk sembahyang sesuai dengan tradisi yang dijalankan, seperti memegang ‘hio’ misalnya. Hal inilah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mencoba kembali lagi datang ke wihara, hanya berharap bisa melakukan ritual penghormatan kepada nenek saya.

Takut Mati

Keinginan untuk kembali datang ke wihara rupanya memerlukan waktu yang cukup lama. Di tengah-tengah penantian itu ada cerita lucu yang membuat saya akhirnya kembali lagi aktif datang kebaktian di tempat ibadah agama saya yang dulu. Ketika itu di daerah tempat saya tinggal sedang dihebohkan oleh penyakit demam bedarah. Saya yang masih duduk di SMP kelas 2, saat itu sedang asik bermain sendiri di sebuah lapangan yang dipenuhi rumput dan barang-barang bekas termasuk ban mobil yang terisi air hujan di dalamnya. Saat itu ada seekor nyamuk yang penampilannya lain dari nyamuk-nyamuk umumnya datang menggigit saya, dan dengan spontan saya meyakininya sebagai seekor nyamuk demam berdarah. Otomatis kegelisahan dan ketakutan menyelimuti diri saya, disertai pikiran bahwa saya akan segera mati. Ketakutan akan kematian itulah yang membuat saya berdoa kepada Tuhan saya untuk berjanji datang lagi kebaktian jika saya diberikan kesempatan untuk hidup. Ternyata benar saja saya masih hidup dan mau tidak mau saya harus menepati janji yang sudah saya katakan di dalam hati. Kembalilah saya ke tempat ibadah itu, setelah sekian lama tidak datang kebaktian. Sekembalinya saya seperti biasa disambut hangat oleh kakak pengurus, bahkan dia pun menyempatkan waktunya untuk mampir ke rumah saya. Sungguh merupakan awal kesan dan bentuk penerimaan yang luar biasa, otomatis keluarga saya pun merasa tersentuh dan terperhatikan. Namun untungnya teman-teman semasa kecil saya di sana sudah tidak terlalu lagi mengenali saya, dan karena itulah saya merasa kesepian, lalu tidak lama kemudian memutuskan untuk tidak lagi datang kebaktian. Kalau saja teman saya bersikap baik saat itu, mungkin sampai saat ini saya tidak akan mengenal Buddhisme J. Sementara saya yang sudah tidak lagi aktif, sahabat saya malah sungguh sangat aktif bahkan hampir saja dilegalkan menjadi seorang pemeluk sejati. Namun karena memang sudah karma, sahabat saya ini pun ditentang oleh keluarganya. Walaupun sudah ditentang keluarganya hal itu tidak membuatnya sekonyong-konyong untuk berpindah keyakinan, sampai akhirnya dia mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk minta tanda tangan penceramah di setiap kebaktian wihara. Tugas tersebut mungkin suatu berkah bagi saya, karena dengan begitu saya punya teman untuk datang ke wihara. Itulah untuk kedua kalinya saya datang dan kebaktian di wihara dan awal kedatangan itulah yang membuat saya dan sahabat saya memutuskan untuk menjadi seorang Buddhis.

Buddhis Tapi Kok Tidak Ramah

Pada dasarnya saya ini berasal dari keluarga Buddhis tradisi yang jarang sekali ke wihara dan hanya melakukan ritual berdasarkan tradisi turun-temurun keluarga, seperti sembahyang leluhur, “Cung.. cung.. Cep” (haha..) dan lain-lain. Mungkin Karena inilah orang tua saya tidak pernah melarang anaknya untuk pergi kebaktian ke tempat ibadah yang berbeda. Tapi dengan begitu saya jadi mengerti perbedaan antara agama lain dengan agama Buddha. Ingat saya waktu pertama kali datang kebaktian ke sebuah wihara yang cukup besar dan ramai umatnya. Dulu di tempat ibadah dari keyakinan saya, biasanya saya disambut dengan senyum dan salam yang menghangatkan. Tetapi di wihara itu saya seperti orang asing yang tak tahu apa-apa dan tak ada satu pun makhluk yang menyapa saya. ‘Oh.. begini rupanya sebuah wihara dan umat Buddha memperlakukan sesamanya’, pikir saya. Untungnya hal ini tidak mengurungkan niatan saya untuk terus datang kebaktian, karena memang saya pun selalu datang dengan sahabat saya. Setelah saya pikirkan sekarang, mungkin inilah salah satu faktor mengapa agama Buddha dulu kurang diminati oleh banyak orang, karena memang bungkus dan pelayanannya yang kurang menarik. Menyapa umat yang datang saja, sebenarnya sudah merupakan bentuk perhatian yang didasari oleh kasih sayang. Namun tentunya sebagai seorang Buddhis sejati akan sangat disayangkan, jika pelayanan semacam ini saja tidak didasari dengan kasih sayang. Mengingat Buddha mengajarkan kasih sayang yang luar biasa, bahkan kasih sayang itu diberikan kepada semua makhluk. Akan tetapi itu dulu, mungkin sekarang zamannya sudah berubah. Saat ini jika saya kembali datang kebaktian di wihara tersebut, sudah terlihat para petugas PU (Pelayanan Umat) dengan ramah menyapa umatnya. Hanya saja memang masih ada beberapa tempat kebaktian yang masih mempertahankan sistem lama, dengan cara cuek atau acuh terhadap umatnya yang datang kebaktian. Untuk itu walaupun isi dalamnya bagus luar biasa, namun tak ada salahnya memperbaiki bungkus luarnya agar terlihat lebih menarik yaitu dengan meningkatkan pelayanan dan hubungan sosial yang baik.

Pernah diterbikan di Majalah Warta Dharma Ratna Edisi Asadha 2553/2009 no.27

Thanks to My Parents and Ancestors

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s