Small thing can cause a big problem.


Oleh Selfy Parkit

Sore hari di dalam kelas sekolah, karena merasa bosan Aku lantas berpikir ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan dan mengasikkan. Dengan kejahilan dan keisenganku, Aku merasa yakin akan dapat mengubah suasana yang membosankan menjadi meriah. Aku pun berniat memulai aksiku dan seakan tak memperdulikan apa yang nantinya akan dihasilkan. Dapat tertawa dan merasa lucu itu sudah cukup ‘Dengan begitu mari beraksi’, pikirku sambil perlahan-lahan berjalan membawa sepatu temanku yang sedang tergeletak di lantai. Sebelah sepatu dengan kaos kaki di dalamnya itu telah berhasil Aku pindahkan menggunakan kakiku secara perlahan-lahan ke belakang pintu kelas. Merasa yakin bahwa aksiku telah berhasil aku pun kembali ke tempat dudukku sambil tersenyum terkekeh-kekeh. Lalu, ku tunggulah waktu dimana temanku ini akan mulai mencari sepatunya. Senyuman kecil ini tak berhenti menempel di bibirku, Aku berpikir bahwa aksiku kali ini akan berhasil dan membuat semua orang tertawa. Beberapa menit kemudian, si Pemilik sepatu ingin kembali ke kelasnya dan menyelesaikan pekerjaannya. Inilah waktu yang ku tunggu-tunggu setelah lama menyeringai karena merasa lucu. Temanku ini pun mencari-cari sebelah sepatunya yang telah hilang dari tempatnya. Aksiku bisa dikatakan lima puluh persen membawa keberhasilan dan lima puluh persen gagal. Walaupun ia tidak tahu dimana sepatunya, tapi ia tahu siapa pelakunya. Segera ia memintaku untuk memberitahu dimana Aku menyembunyikan sepatunya. Sambil tertawa, Aku berkata kalau Aku tidak akan mengatakan dimana Aku menyimpan sepatunya. Awalnya ia pun sempat ikut tertawa dan kembali memintaku untuk segera mengatakan dimana sepatunya, namun kali ini permintaannya disertai ancaman. Dengan membawa kaos kakinya yang bau ditangannya, ia pun menghampiriku bermaksud agar aku takut dan mau menyerah serta mengatakan kepadanya perihal pasangan sepatunya itu. Aku pun berlari dari kejarannya dan bersikeras untuk tidak mengatakannya. “Carilah sendiri!” kataku sambil tetap tertawa terkekeh-kekeh. Merasa ancamannya tak berhasil, temanku ini lalu menaikkan tawarannya dengan menempelkan kaos kakinya itu di buku dan botol minumku. “Nanti juga botol minumnya ku cuci, carilah sendiri!” ledekku sambil tertawa. Keadaan pun semakin semarak saat temanku ini kembali menaikkan bobot ancamannya dengan mengatakan, kalau Aku tak memberitahu dimana sepatunya, maka ia akan memasukkan kaos kakinya yang bau itu kedalam botol minumku yang bentuknya persegi empat. Beberapa temanku yang lain ikut menyemarakkan suasana dengan berteriak-teriak kegelian atas ide kaos kaki bau yang baru saja diluncurkannya itu. Namun, Aku bersikeras untuk tidak mengatakannya dan tak mau kalah untuk juga ikut mengancamnya, ku ambil tas kecilnya yang berada di atas meja dan mengeluarkan semua isinya. Kali ini aku yang melayangkan ancaman, jika ia berani melakukan hal itu yaitu memasukkan kaos kakinya ke dalam botol minumku, maka aku tak akan segan-segan menyemplungkan tas kecilnya itu ke dalam toilet sekolah. Seketika nada dan suasana saat itu berubah menjadi serius, dia pun akhirnya berusaha memasukkan kaos kakinya ke dalam botol minumku. Merasa tak mau kalah, Aku pun berlari ke dalam toilet dan memperlihatkan kepadanya kalau Aku benar-benar serius akan memasukkan tas kecilnya itu ke dalam toilet. Apa mau dikata kaos kakinya yang bau itu sekarang sudah ada di dalam botol minumku dan mengisi hampir seluruh ruangannya. Sambil menggoyang-goyangkan botol minumku, ia berkata kalau Akulah yang memaksanya untuk melakukan hal itu. Awalnya ku pikir dia tak akan berani dan serius melakukannya, tapi nyatanya temanku ini menganggap serius semua hal tersebut. Melihat atas apa yang ia lakukan dan berpikir bahwa Aku pun memang salah karena telah menyembunyikan sepatunya. Pada akhirnya Aku pun mengembalikan tas kecilnya dan tak jadi memasukannya ke dalam toilet. Aku sadar kalau hal itu terjadi oleh karena Akulah penyebabnya. Namun, karena sudah terlanjur melihat botol minumku dengan kaos kaki bau di dalamnya membuatku enggan mengatakan dimana Aku menyembunyikan sepatunya. “Carilah sendiri di sekitar kelas!” seruku sambil kembali duduk dan mengerjakan pekerjaanku. Tak lama setelah itu, temanku ini pun menemukan sepatunya dan tanpa berkata ia pergi ke lantai atas, kelas tempatnya mengajar dan mengerjakan tugas sekolahnya. Suasana di ruang kelas itu seketika terasa dingin dan membeku. Temanku lainnya yang saat itu berada dan ikut serta menyaksikan kejadian tersebut mulai merasa khawatir kalau-kalau kami berdua akan bertengkar atau bermusuhan. Namun tak lama kemudian, si pemilik sepatu itu datang menghampiriku dan menepuk pundakku sambil berkata dan meminta maaf karena sudah keterlaluan sudah melakukan hal tersebut. Walaupun suasana tidak sehangat seperti sedia kala, namun kami pun akhirnya saling meminta maaf karena telah melakukan hal bodoh yang hampir saja merusak hubungan pertemanan kami. Sambil menunjukkan permintaan maafnya, dicucilah botol minumku itu di tempat pencuci tangan sekolah. Akupun menunjukkan permintaan maafku dengan cara sembunyi-sembunyi membantunya menyelesaikan pekerjaan untuk perayaan valentine kelas bersama anak didiknya. Aku tak menyangka kalau gurauanku yang kecil itu dapat menyebabkan hal yang tak diinginkan. Kalau saja saat itu Aku benar-benar memasukkan tas kecilnya ke dalam toilet, pastilah ceritanya takkan berakhir seperti ini. Namun akhirnya Aku sadar bahwa kesalahan tak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kesalahan, kesalahan baru akan berakhir dengan cara melakukan hal yang benar. Tanpa kita sadari suatu hal yang kecil dapat berdampak besar, oleh karena itu berhati-hati dan waspadalah selalu dalam bertindak.

Thanks to MyMoM&Friends
Pernah dipublish di Majalah DSPMagz, Jakarta 2010

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s